Nyaman Nggak Nyaman

Ketidaknyamanan adalah yang terus menerus membuat kita bergerak. Perut lapar adalah ketidaknyamanan, haus adalah ketidaknyamanan, suhu lebih panas tidak nyaman, suhu lebih dingin tidak nyaman, tempat tidur terlalu empuk tidak nyaman, terlalu keras tidak nyaman, bahkan yang keempukannya pas pun juga nanti tidak nyaman maka dari itu kita bergerak pindah posisi ketika tidur. Belum mandi tidak nyaman, makanya mandi. Mandi airnya kurang segar juga tidak cukup nyaman, mau air yg segar supaya lebih nyaman. Di beberapa tempat di jakarta misalnya airnya tidak nyaman, seperti berminyak.

Keseluruhan indera-indera kita menghindari ketidak nyamanan dan mencari kenyamanan, dan karenanya kita terus bergerak. Di dalam hubungan juga begitu, makanya akhirnya ada yg putus hubungan dan cerai ketika batas toleransinya pada ketidak nyamanan terlewati.

Tentu tidak salah jika kita mencari yang nyaman. Harus malah. Terus menerus berusaha menciptakan dan memberikan kenyamanan pada diri kita dan orang lain. Tapi kadang di satu titik kita dipaksa harus menerima ketidak nyamanan itu. Seolah ketidak nyamanan adalah karakteristik dari kehidupan. Berat memang belajar menerima, Nerimo,.. Berat. Walau pun berat mau nggak mau harus dilatih dan dikembangkan kemampuan menerima ketidaknyamanan ini. Sering ketika kita komplain dengan ketidaknyamanan justru malah semakin membuat tidak nyaman dan stress, bahkan bisa gila atau kena stroke.

Mungkin kenyamanan tidak dapat diciptakan ya.. tapi hanya ketidaknyamanan yang dikurangi kadarnya, atau kemampuan penerimaan kita yang harus ditumbuh kembangkan.

Berlatih menerima, Nerimo, tidak bisa hanya dilatih sekali untuk selamanya. Tidak seperti memperbaiki pipa air yang bocor. Begitu pipa bocor kita panggil tukang, selesai, dan mungkin 3 tahun lagi baru bocor. Berlatih menerima ketidaknyamanan ini setiap saat, sepanjang hari, terus menerus. Sebab ketidaknyaman hadir setiap saat di seluruh gerbang-gerbang indera kita. Di ajaran Buddha Mahayana ada enam kesempurnaan (sad paramita) yang harus ditumbuh kembangkan terus menerus salah satunya adalah Kesempurnaan Kesabaran (Kshanti Paramita). Arti kesabaran salah satunya adalah menerima ketidaknyamanan. Berat, sungguh berat.. dan pasti gagal lagi dan gagal lagi.. tak apa.. mulai lagi, latih lagi.. pelan-pelan saja, jalan terus. Dikatakan bahwa Buddha Gautama menyempurnakannya di banyak kelahiran dalam empat kalpa. Anggaplah 1 kalpa (eon) itu adalah 4,32 milyar tahun. Maka itu lama sekali.

Bahkan menurut Buddha Gautama 4 kalpa itu termasuk cepat.. Di tradisi Dharma dikenal satuan waktu Mahakalpa yang lamanya adalah 1.000 kalpa, dan Asamkheyakalpa yang jumlah kalpanya tak terhitung lagi banyaknya. Tapi waktu tak terbatas, bahkan jutaan kalpa pun masih bisa ditambah 1 hari lagi dan seterusnya.

Pelan-pelan saja, yang penting jalan terus. Sebentar lagi… tidak lama lagi.. tidak sampai 20.000 mahakalpa. Berlatih dan terus berlatih.

Dari status facebook @gedeagustapa 19 Desember 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *