Tahapan Melihat Tubuh
Ketika belum belajar, tubuh dilihat sebagaimana tubuh. Bahkan hanya tampilan luarnya. Begitu juga dengan pohon, gedung, gunung, batu. Yang dilihat bentuk luarnya.
Di awal belajar tubuh dilihat sebagai tumpukan daging, lendir, darah, keringat dan bau busuk. Dilihat sebagai mayat yang membusuk. Gedung dilihat sebagai puing-puing. Semuanya dilihat sebagaimana debu dan puing-puing. Tujuannya untuk mengurangi kemelekatan.
Di tahapan berikutnya mencoba melihat segala sesuatu sebagai kosong melompong. Tidak ada apa-apa.
Selanjutnya melihat bahwa segala sesuatu ini sebagai istadewata. Semua sama sucinya. Semua adalah Dharmakaya. Mungkin dalam bahasa sains semua adalah dualisme gelombang dan partikel. Cahaya pun adalah dualisme gelombang dan partikel. Jadi secara fisika tubuh kita dan juga segala sesuatu yang materi ini sebenarnya juga adalah cahaya. Segala sesuatu unsur dasarnya sama. Sama sucinya. Kurang lebih begitu lah. Seorang yogi mengatakan “pencerahan hingga ke tubuh fisik.” Secara fisika sangatlah mungkin tubuh ini ditransformasikan menjadi cahaya. Ada banyak yogi dari masa lalu yang berhasil melakukan itu.
Tidak mudah, tapi latih saja. Semua tingkatan itu tidak mudah. Tetapi penting untuk tau dan kemudian berlatih. Pelan-pelan. Yang penting jalan terus.
Tidak semua siap melihat tubuhnya sebagai mayat, melihat tubuh orang yang dicintainya sebagai mayat, melihat harta bendanya sebagai puing-puing. Tetapi ada juga yang siap. Ada yang coba-coba.
Sesiapa pun yang bersungguh-sungguh ingin merealisasi Dharma perlu lah ia merenungkan ketidakkekalan segala sesuatu. Tubuh yang indah tidak selamanya indah. Seketika pun bisa menjadi mayat, mayat yang berantakan, atau menjadi abu. Perlu lah merenungkan kematian kita sendiri dan juga kematian orang yang dicintai.
Ajaran Dharma ada banyak tingkatannya. Setiap makluk sedang berproses. Berproses untuk menyadari kesejatiannya, menyadari hakikat terdalam keberadaannya.
Dari status facebook @gedeagustapa 20 mei 2022