Sekelumit tentang Jodoh Karma dalam Berguru

Setiap individu atau sekelompok individu berguru sesuai dengan jodoh karmanya masing-masing, sesuai dengan hubungan karmanya di masa lalu. Ada yang berguru ke India, ada yang berguru ke Bali, ada yg ke Nepal, Tibet, Bhutan, Sri Lanka, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Jepang, China, Korea atau ke Eropa, atau Amerika, Australia. Sekarang ini banyak Guru-guru Dharma yang memilih lahir di barat. Banyak juga orang-orang di negara-negara barat yang memiliki ketinggian realisasi sebagaimana guru-guru dari timur.

Setiap individu atau kelompok individu belajar dharma sesuai dengan tingkat kesadarannya masing-masing. Ada yang nyaman dengan ritual, ada yg nyaman dengan ajaran moralistik, ada yg menyukai berjapa, ada yang menyukai meditasi, ada yang menyukai pendekatan secara fisik seperti yogasana, ada juga yang menyukai pendekatan pikiran ada juga yang menyukai pendekatan energi seperti tantra.

Jangan kita berusaha mengatur kebebasan individu dalam berguru. Sebab kita tidak mengetahui jalinan karma masa lalunya, samaya dengan Guru dan silsilahnya, atau proses yang sudah dia jalani di kehidupannya yang terdahulu. Sama sekali kita tidak tahu. Ada orang Bali yang berguru Zen ke Jepang, ada juga yang ke China, ada juga yang belajar Zen dari tradisi Korea atau Vietnam. Ada juga orang Jepang berguru ke Bali, atau orang Korea atau China yang berguru ke Bali.

Praktek istadewata juga begitu. Ada yang nyaman dengan istadewata yang berwujud damai, ada yang nyaman dengan istadewata yang berwujud murka, ada yang nyaman dengan istadewata setengah murka, ada yang nyaman dengan istadewata yang maskulin, ada yang nyaman dengan istadewata yang feminim, ada yang nyaman dengan istadewata feminim-maskulin, ada juga yang nyaman dengan aksara-aksara, ada juga yang memilih hanya terserap pada nirbija samadhi. Tidak bisa dipaksakan bahwa kita semua harus sama.

Mungkin ada yg berkomentar ngapain berguru sama orang Australia, memangnya di Bali kurang Guru Dharma? Tapi jodoh karma masing-masing individu kan nggak bisa begitu. Misalnya seseorang berguru pada Ajhan Bram yang dari Australia. Ini sama kayak gadis Bali yg menikah sama bule atau orang luar Bali. Jodoh karma terkuatnya sama orang itu nggak bisa kita bilang; memangnya di Bali kurang laki-lakinya?

Yang dituju satu dan sama. Pembebasannya sama. Bahkan sejatinya tidak ada manusia atau makluk apa pun di alam semesta ini yang tidak terbebaskan. Belenggu hanyalah ilusi. Samsara adalah ilusi. Yang merasa terbelenggu sebenarnya adalah orang yang sudah sedari awal terbebaskan tapi dia berkhayal dia terbelenggu.

Orang yang telah melihat dan mengalami langsung (direct realization) keadaan yang melampaui segala sesuatu itu (acintya) memahami bahwa masing-masing individu sedang berproses. Karena ia pun juga melalui proses itu. Dan proses itu tidak bisa dipaksakan harus A atau harus B. Bahkan seorang perampok seperti Ratnakara (Rsi Walmiki) atau orang gila seperti Patacara atau seorang dengan ilmu hitam yang kuat seperti Milarepa dapat mencapai level kesucian yang tinggi.

Dari status facebook @gedeagustapa   18 mei 2022

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *