Meditasi & Peduli Lingkungan
Dulu orang di desa menyapu membersihkan halaman rumah mereka dan membuang sampahnya di kebun. Itu hal biasa. Tidak ada masalah. Sekarang zaman sudah jauh berbeda. Sampah plastik di mana-mana. Sampah plastik yang dibuang di kebun akan hanyut terbawa air mengikuti sungai dan sampai ke laut. Sekarang jumlah penduduk juga banyak sehingga banyak sampah dihasilkan. Apalagi di Bali yang jarak dari pusat pulau ke laut tidak lah jauh.
Sampah plastik ini berbahaya sekali bagi ekosistem laut. Laut adalah penopang penting kehidupan di darat. Plantkon-plantkon di laut mampu menyerap karbon dan menghasilkan oksigen. Jika banyak sampah plastik yang mana terbuat dari minyak bumi ke laut, ini akan membunuh banyak plantkon. Plastik juga membunuh berbagai makluk laut lainnya. Mereka mengira plastik itu ubur-ubur dan memakannya. Jika laut rusak, kehidupan di darat juga akan rusak. Segala sesuatu ini adalah satu kesatuan.
Yang berlatih meditasi, belajar Dharma, berlatih spiritual, haruslah juga mengembangkan kepekaan pada lingkungan, pada ekosistem, pada kesejahtraan makluk lain. Tidak ada Tuhan yang terpisah dari ekosistem, yang terpisah dari berbagai perwujudan makluk yang banyaknya tak terhingga ini. Memuja Tuhan tapi tidak menjaga kesejahteraan makhluk dan ekosistem adalah hal yang tidak tepat.
Ia yang sudah menyadari Sang Hidup di dalam dirinya juga menyadari bahwa Sang Hidup yang satu dan sama ada pada semua makluk. Segala sesuatu yang ada ini adalah Dharmakaya. Oleh karenanya ia yang sadar selalu mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan sebanyak mungkin makluk. Ia merawat dan menjaga, menghindari menciptakan sengsara dan derita pada makhluk-makhluk.
Selain untuk moksha, tujuan Dharma adalah untuk hidup di sini bersama semua makluk dengan harmonis, sejahtera dan penuh suka cita.
Dari status facebook @gedeagustapa 2 januari 2021