MAKHLUK
Makluk adalah kualitas pikirannya. Renungkan ini baik-baik dan amati pada diri kita dan pada yang lain. “Yang lain” bukan hanya manusia saja, tapi juga kucing, anjing, dan sebagainya. Jika pernah retreat meditasi vipasana beberapa hari maka akan lebih mudah untuk melakukan pengamatan itu.
Di suatu momen ketika tubuh relaks, pikiran tenang dan jernih, tidak ada kegelisahan dan kekhawatiran sedikitpun, di keadaan itu sadari; ooh betapa indahnya. Di keadaan itu seseorang laksana Dewa yang berkelimpahan segalanya. Ia menikmati setiap momennya; tenang, lambat, jernih. Karenanya ia sentosa atau berkelimpahan. Ia berkelimpahan sebab tidak ada rasa kekurangan. Tidak ada rasa kurang karena ia tidak serakah. Walau pun momen seperti ini datang tidak lama, mungkin hanya 5 menit, akan sangat membantu proses transformasi berikutnya. Sadari ini.
Di momen ada gelisah, ada rakus atau ada jengkel, ada marah, ada kekikiran, ada niat licik, ada keinginan culas dan mengambil keuntungan… Sadari.. Sadari kualitas rendah itu. Betapa menyiksanya kualitas bathin yang seperti itu. Jika terbiasa sadar, sedikit pun muncul kegelisahan dan kekhawatiran kita akan tau dan tau ketidak nyamanan yg dimunculkannya.
Ketika melihat anjing yang sedang garang berebut tulang, amati, renungkan kualitas pikiran dari si anjing itu. Ketika anjing sedang menggonggong karena wilayahnya dimasuki anjing lain, amati dan renungkan kualitas bathinnya di momen itu. Atau melihat tikus yang sedang lari atau terpojok ketakutan.. Renungkan kualitas bathinnya.
Surga dan neraka, nyaman dan tidak nyaman, sepenuhnya adalah karena kualitas pikiran kita. Di ajaran Buddha tidak ada Tuhan yang menghadiahkan surga, tidak ada Tuhan yang menghukum seseorang dengan neraka. Kita dibuat senang dan nyaman oleh kualitas pikiran kita. Kita disiksa oleh kualitas buruk dari pikiran kita. Tidak ada Tuhan yang menghukum si biksu jahat Dewadatta di neraka avici melainkan ia disiksa oleh kebencian dan dendamnya sendiri.
Makluk Brahma dikatakan berdiam di kualitas bathin yang disebut catur paramita yang terdiri dari: Mudita, Karuna, Maitri dan Upeksa. Karenanya keempat kualitas bathin itu disebut juga Brahma Vihara atau tempat tinggal Brahma. Dengan kata lain, makluk Brahma tinggal di kualitas bathin yang seperti itu.
Lihat ke dalam fenomena bathin kita; kadang muncul garang seperti anjing yang berkelahi, kadang sedih seperti hantu yang menangis, kadang usil, kadang tenang jernih dan damai seperti Dewa.
Yang rajin berlatih akan peka betul dengan gerakan bathinnya. Ia tau; aahh ini kualitas dewa sedang muncul, ahh ini kualitas raksasa mau muncul, aah ini kualitas anjing mau muncul. Apa pun kualitas pikiran kita selalu ada tandanya di tubuh fisik. Pikiran dan fisik adalah dua sisi dari sekeping koin.
Belajar ajaran Buddha adalah belajar mengetahui ini, belajar mengalami ini, belajar memahami mekanisme dari fenomena bathin ini dan menjadi terbebaskan dari mekanisme ini. Belajar nyaman dan belajar terbebaskan dari ketidak nyamanan penderitaan. Tentu tidak cukup hanya membaca dan berdiskusi. Harus praktek, harus berlatih. Dan praktek itu sulit, perlu waktu, ada proses. Tak apa, pelan-pelan asalkan jalan terus. Jangan lengah.
Dari status facebook @gedeagustapa 14 Juli 2022