Lurus, Jalan Terus
Ada orang atau kelompok individu yang tidak senang pada orang berlatih Dharma, mengembangkan bhakti, dan melakukan kebajikan. Ada orang atau kelompok individu yang tidak senang pada orang yang meninggalkan jalan yang tidak baik.
Mereka yang tidak senang dengan orang berbuat baik sebenarnya mereka tidaklah tidak senang pada kebaikan. Bahkan para penjahat yang terjahat pun tidak ingin dijahati.
Mereka tidak senang dengan orang baik karena dengan adanya orang baik kejahatan mereka menjadi kelihatan. Karena ada pembanding. Mereka tidak senang pada orang yang tekun berlatih Dharma bukan karena mereka tidak senang pada Dharma, tapi karena prilaku adharma mereka jadi kelihatan. Tidak ada orang mau terlihat jelek, terlihat jahat. Semua mau terlihat baik bahkan mau terlihat sebagai yang terbaik. Atau setidaknya terlihat sama-sama jelek lah.
Sewaktu sekolah dulu entah di SD atau SMP atau SMA kita pernah mengalami ketika hasil ujian satu kelas dapatnya nilai 4 semua, atau 3 dan 4. Maka kita akan merasa lega. Atau jika semuanya dapat nilai 9 atau 8 maka kita juga merasa lega. Tapi kita akan merasa tidak nyaman jika kita dapat nilai 4 sementara teman kita dapat nilai 8 atau 9 atau 10. Apakah murid yang dapat nilai 4 ini tidak senang dengan nilai 8 dan 9? Ya senang lah. Kita bukan tidak senang pada nilai 9 nya, tapi kita tidak senang terlihat bodoh.
Setelah menjadi dewasa juga begitu. Ada yg tidak senang dengan pencapain orang, dengan kekayaan orang. Apakah mereka tidak senang dengan kekayaan atau pencapaian? Tentu tidak. Mereka hanya tidak senang dengan kegagalan mereka jadi kelihatan.
Bagi siapa pun yang melangkah di jalan Dharma, atau baru mulai memasuki ajaran Dharma, berlatih mantra, menumbuh kembangkan bhakti, jalan lah terus. Dicibir itu biasa. Ingat cerita anak Sekolah di atas.
Bagi sesiapa pun yang mulai meninggalkan aktivitas adharma kemudian dicibir, teruslah melangkah. Mengambil jalan yang lurus, jalan Dharma, jalan lah terus.
Boleh saja mereka mencibir atau dengki atau benci.. Selama badai belum datang ke kehidupan mereka tentu mereka merasa kuat. Tunggu saja. Sebab badai pasti datang. Pasti. Menua dan sakit-sakitan adalah pasti. Ditinggalkan oleh orang hang dicintai dan meninggalkan orang yang dicintai adalah pasti. Pasti terjadi. Kematian pasti datang pada orang yang dicintai dan juga kita semua. Momen kematian adalah momen penentu di alam mana kita akan mengambil wujud. Apakah kita akan menghadapai kematian dengan tenang, dengan penuh percaya diri (confident), sebab tau kemana melangkah atau kah bingung, khawatir, dan panik oleh berbagai rasa sakit dan ketakutan.
Momen kematian begitu berharga. Ia adalah gerbang pembebasan juga gerbang belenggu penderitaan selanjutnya.
Berlatihlah dengan tekun. Jangan abai, jangan lengah. Jangan menghabiskan seluruh waktu memperjuangkan hal-hal remeh di dunia ini. Gunakan sebagian waktu mempersiapkan momen kematian.
Para praktisi yang tulus semoga dianugrahi berbagai kelimpahan oleh para Guru, para Buddha dan Boddhisatva. Om… Sarva Buddha namo namah
Dari status facebook @gedeagustapa 17 Juli 2022