Kelihatannya Bijak

Untuk yang tertarik dengan ajaran Dharma dan meditasi khususnya yang tertarik dengan ajaran Buddha perlu berhati-hati dengan kata-kata “bijak” yang banyak tersebar di berbagai sosial media. Sebab banyak dari kata-kata yang kelihatannya bijak itu tidak sesuai dengan sutta, sutra, sastra dan tantra. Ini lah perlunya membaca buku bukan hanya asupan dari sosial media. Apalagi zaman sekarang banyak yang posting untuk sekedar konten untuk menghasilkan uang semata atau bagian dari marketing. Mereka tidak perduli apakah si pembaca akan bertranformasi kah atau tidak. Mereka sendiri sering tidak memahami apa makna dari yang mereka posting itu.

Ketika membaca buku pun kita perlu membandingkan buku yang satu dengan buku yang lain walau pun topik pembahasannya sama. Jangan langsung percaya pada buku. Zaman sekarang mudah orang menulis buku, mudah orang menerbitkan buku. Dan seringkali juga buku itu diterbitkan adalah untuk tujuan bisnis bukan tujuannya Dharma dan transformasi bathin. Banyak juga buku spiritual yang ditulis oleh mereka yang tanpa realisasi apa pun.

Jika punya komunitas Dharma dan meditasi atau punya Guru Dharma perlu juga buku-buku yang kita baca didiskusikan dengan mereka untuk benar-benar memahami maksudnya.

Selain itu saran saya adalah membaca kitab-kitab kuno atau sutta, sutra, sastra dan tantra dan komentar-komentarnya daripada sekedar membaca buku-buku terbitan zaman modern. Kitab-kitab kuno yang telah terbukti dan telah diuji oleh para mahasidha oleh para pertapa oleh para bhiksu.

Sutta adalah wejangan-wejangan sang Buddha yang berbahasa Pali yang digunakan dalam tradisi Theravada. Sutra adalah kitab-kitab ajaran Buddha Mahayana yang berbahasa sanskerta. Sastra adalah komentar-komentar atau pembahasan lebih lanjut dari sutra-sutra. Dan tantra dalah text-text yang berkaitan dengan ajaran tantra.

Dari status facebook @gedeagustapa  23 Pebruari 2025

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *