Tentang Kematian, Ketidakkekalan, dan Kekuatan Tekad

Tanpa perenungan yang sungguh-sungguh mengenai kematian (maranasati), ketidakkekalan (anicca), dan kemungkinan kelahiran kembali di alam-alam penderitaan, tekad kita dalam menempuh jalan spiritual tidak akan pernah benar-benar kokoh.

Yang direnungkan bukan hanya kematian diri sendiri. Bukan pula hanya kemungkinan kelahiran kembali diri sendiri. Kita juga merenungkan bahwa setiap orang yang kita cintai—mereka yang pernah hadir di masa lalu, yang kini bersama kita, maupun yang akan hadir di masa depan—semuanya berada di bawah hukum ketidakkekalan. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari penuaan, sakit, kematian, serta akibat dari karma yang belum terselesaikan.

Perenungan seperti ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan atau pesimisme. Sebaliknya, ia membangunkan kita dari kelengahan. Ia membuat kita menyadari betapa berharganya kehidupan saat ini, betapa langkanya kesempatan bertemu Dharma, dan betapa mendesaknya menggunakan setiap hari untuk berlatih.

Tanpa tekad yang lahir dari perenungan semacam ini, perjalanan spiritual mudah berubah menjadi sekadar hiburan intelektual. Meditasi hanya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Dharma hanya menjadi bahan diskusi. Retret hanya menjadi pengalaman yang dicari. Tidak jauh berbeda dengan menghadiri seminar pengembangan diri, mempelajari mata kuliah, atau menjalani sebuah hobi.

Saya teringat perkataan agung Patrul Rinpoche yang kurang lebih berbunyi:

“Jika tubuhmu tidak merinding ketika merenungkan kemungkinan terlahir kembali di alam rendah, berarti engkau belum benar-benar merenungkannya.”

Perenungan yang sejati mengguncang hati. Ia melahirkan samvega—rasa urgensi spiritual yang mendorong seseorang untuk tidak lagi menunda latihan.

Tanpa perenungan seperti ini, kita sangat mudah lengah. Kita merasa sudah memahami. Merasa sudah merealisasi. Merasa sudah cukup baik. Padahal batin masih penuh kebiasaan lama yang sewaktu-waktu dapat kembali menguasai kita.

Karena itulah Buddha berulang kali menekankan pentingnya berlindung kepada Sangha. Berada di tengah komunitas para praktisi membantu kita saling mengingatkan, saling menopang, dan menjaga agar api tekad tidak padam. Sangha dapat berupa komunitas para bhikkhu dan bhikkhuni, para yogi dan yogini, para Bodhisattva, para Arya, maupun siapa pun yang dengan tulus berjalan di Jalan Dharma.

Tetaplah berada dalam lingkaran para praktisi. Jangan lengah. Jangan abai. Kuatkanlah tekad, teruslah berlatih dengan penuh ketekunan, hingga kebebasan yang sempurna benar-benar terealisasi.

Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha.

Dielaborasikan kembali dari status facebook @gedeagustapa 28 Agustus 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 115

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *