Mandala Semesta
Fusce at nisi eget dolor rhoncus facilisis. Mauris ante nisl, consectetur et luctus et, porta ut dolor. Curabitur ultricies ultrices nulla. Morbi blandit nec est vitae dictum. Etiam vel consectetur diam. Maecenas vitae egestas dolor. Fusce tempor magna at tortor aliquet finibus. Sed eu nunc sit amet elit euismod faucibus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos.
Guru
Yang Mulia Drubwang Pema Norbu Rinpoche III, yang diakui sebagai reinkarnasi Mahapandita Vimalamitra, tidak hanya menjadi Pemegang Takhta ke-11 Garis Keturunan Palyul pada usia muda, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa di tengah krisis. Momen paling heroik adalah ketika pada tahun 1959, di usia 27 tahun, beliau memimpin pelarian dari Tibet, selamat dari tembakan musuh dan granat yang meledak di dekatnya, demi menyelamatkan inti sari ajaran Dharma. Dari rombongan ratusan orang, beliau berhasil membawa sisa pengikut yang selamat ke India. Dalam kondisi tanpa dana dan tanpa bangunan, beliau menunjukkan tekad baja dengan secara pribadi membersihkan hutan belantara di Bylakuppe untuk mendirikan Biara Namdroling pada tahun 1963, yang kini menjadi pusat pendidikan kebhiksuan terbesar di India Selatan. Puncak pengakuan global beliau adalah ketika beliau terpilih untuk menjabat sebagai Kepala Agung Seluruh Tradisi Nyingma dari Buddhisme Tibet (1993–2001), sebuah posisi tertinggi yang menegaskan status beliau sebagai salah satu penjaga dan penyebar utama ajaran Buddha kuno di dunia modern. Keberanian beliau tidak hanya mempertahankan sebuah garis keturunan, tetapi juga memastikan kelangsungan ajaran Dzogchen (Maha Ati Yoga) bagi generasi mendatang.
Khenpo Thubten Dorji Rinponce adalah Guru Dharma dan praktisi tantra dari tradisi Nyingma. Beliau lahir pada tahun 1970 di Desa Khomsar, Bhutan. Pada tahun 1987 beliau memulai Pendidikan kebhiksuan formalnya di Biara Dramidse Shedra, berlokasi di Bhutan Timur, di bawah bimbingan Yang Mulia Dodrupchen Rinponce IV yang merupakan guru akar (mula guru/root guru) beliau yang pertama. Dari mendiang Yang Mulia Pema Norbu Rinponce (Penor Rinponce) III, pendiri biara Namdroling dan guru akarnya yang kedua, beliau menerima transmisi lisan dan abhiseka silsilah Namcho dan Rinchcen Terdzo yang totalnya dari 60 volume dan diselesaikan dalam kurun waktu eam bulan. Khenpo Thubten Dorji Rinponce menyelesaikan Pendidikannya di Biara Namdroling pada tahun 2004 dan pda tahun 2011 beliau resmi menerima gelar Khenpo (stara dengan Profesor) dari Yang Mulia Karma Kunchen Rinponce.
Beliau ke Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 2012 dan aktivitas Dharmanya dimulai sejak tahun 2013. Hingga saat ini sudah lebih dari 30 kota dan desa di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Bangka Belitung yang sudah dikunjungi oleh Khenpo Thubten Dorji Rinponce. Untuk Indonesia, beliau menekankan pengajaran pada jalur pembebasan Namcho Ngondro. Proses pengajaran beliau di Indonesia difasilitasi oleh Yayasan Arya Taray Nusantara.
Fasilitator
Recognize that this nonarising is self-dissolving, like of seeing that every type of display-just likevclouds, mist, or haze-unfolds within the expanse of space and then naturally dissolves within the same expanse. While this is being taught, the foremost student will experience the self-existing wakefulness that unfolds from within, just like the sun shining in the sky, and be liberated during the same lifetime. The average student will settle upon this experience of realization as fresh, unbound, and natural, and be liberated through meditation training. Failing to gain realization within his or her stream-of-being, the lesser student must train using shamatha as the method for gaining realization, and be liberated once realization has gradually arisen within his or her stream-of-being. Next is the meditation training that is like a strong glue in which a fly becomes permanendy stuck. As a yogi, you should stick to the meditation experience, without interruption. While doing so, you should assume the three key points of body, speech, and mind. While clearly present as the yidam deity, visualize and supplicate the guru above your head. Imagine millions of dakinis dancing in manifold ways at the base of every hair on your body. Then gather your mind within your body at the level of your heart, and let both body and mind be totally unfettered, utterly free. Cease every movement of mind and mental events, and then just settle. Sever completely every type of thought-such as ideas of perceiving, being empty, or strategies- since they are all products of your own mind. While applying the three-kaya gazes, let be in naturalness free of adjusting-in the continuous state of the nature of this mind, simply as it is-which is awake, empty and alive.
Aktivitas Bersama & Retreat
20
Lorem ipsum dolor
15
Vitae semper quis
5
Nulla aliquet enim
20
Rhoncus pellentesque
23
Vitae semper quis
8
Nulla aliquet enim
Testimonials
Some feedback from our clients
Description for this block. Use this space for describing your block. Any text will do. Description for this block. You can use this space for describing your block.
This is awesome
— Sara Parker
Description for this block. Use this space for describing your block. Any text will do. Description for this block. You can use this space for describing your block.
Amazing Experience
— Joe Guerrero