Anak Tangga Yang Masih Terabaikan dalam Praktek Keagaaman Hindu Bali; Sebuah Opini Pribadi.
Membaca tulisan pak Sugi Lanus di tatkala.co dengan judul “Hindu Bali Oleng Karena Tiga Pilar Suci Tak Seimbang?” menginspirasi saya untuk segera mewujudkan ke dalam tulisan tentang apa yang sudah sejak lama saya amati dalam praktek keagamaan Hindu Bali. Saya menyebutnya “anak tangga yang masih terabaikan.”
Beliau menyoroti mengenai tiga pilar keagamaan Hindu Bali yaitu susila, upacara dan tattwa. Jika ketiganya tidak seimbang maka Hindu Bali akan oleng. Ketidakseimbangan itu biasanya terjadi karena dua hal yaitu over-ritual tanpa susila dan over-ritual tanpa tattwa.
Susila sering diterjemahkan sebagai tuntunan perilaku, moralitas, atau etika yang berlandaskan Dharma. Namun, jika ditelaah lebih jauh, kata sila tidak hanya mengacu pada aturan moral atau pedoman perilaku, melainkan lebih mendasar pada karakter, kebiasaan, atau kualitas batin yang telah menetap dan stabil dalam diri seseorang.
Sementara itu, awalan su- berarti baik, indah, luhur, atau sempurna. Dengan demikian, susila secara harfiah berarti karakter yang baik, watak yang luhur, atau kebajikan yang telah menjadi sifat alami seseorang.
Pemahaman ini memberikan makna yang lebih kuat daripada sekadar etika atau tuntunan perilaku. Etika dapat dipahami sebagai seperangkat aturan yang diikuti dari luar, sedangkan susila menunjuk pada transformasi batin, yaitu ketika kebajikan telah berakar, menjadi karakter, dan termanifestasi secara spontan dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan. Dengan demikian, seseorang tidak lagi berbuat baik karena terikat oleh aturan, melainkan karena kebajikan itu sendiri telah menjadi bagian dari dirinya.
Kata upacara berasal dari dua unsur, yaitu upa dan cara. Kata upa berarti dekat, mendekati, atau menuju ke arah, sedangkan cara berarti cara, metode, praktik, atau pelaksanaan. Dengan demikian, upacara dapat dipahami sebagai cara atau metode yang mendekatkan seseorang kepada tujuan yang hendak dicapai.
Lalu, mendekatkan kepada apa?
Dalam perspektif Dharma, upacara seharusnya mendekatkan seseorang kepada tujuan utama kehidupan spiritual, yaitu mokṣartham jagadhita. Mokṣartham berarti tercapainya mokṣa, yaitu terbebas dari siklus kelahiran dan kematian (saṃsara punarbawa), serta terbebas dari akar-akar penderitaan. Sementara itu, jagadhita berarti kesejahteraan dan kemaslahatan dunia, yaitu terciptanya kehidupan yang sejahtera, damai, harmonis, bahagia, dan penuh sukacita bagi semua makhluk.
Dengan pemahaman ini, upacara bukan sekadar rangkaian ritual, simbol, atau tradisi yang diwariskan turun-temurun. Nilai sejatinya terletak pada sejauh mana ia menjadi metode transformasi yang mendekatkan manusia kepada pembebasan batin sekaligus menumbuhkan kebijaksanaan, kasih sayang, keharmonisan, dan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila sebuah upacara tidak lagi mengarahkan seseorang kepada kedua tujuan tersebut, maka yang tersisa hanyalah bentuk luarnya, sementara esensi Dharma yang seharusnya dihidupkan melalui upacara menjadi kabur.
Tattwa berasal dari kata tat yang berarti “yang itu“ atau “itu“, dan akhiran –tva (sering dilafalkan -wa dalam bahasa Indonesia) yang berarti keadaan, sifat, atau hakikat. Dengan demikian, tattwa dapat dipahami sebagai hakikat, kesejatian, atau realitas yang sesungguhnya. Dalam konteks Dharma, tattwa merupakan pemahaman yang benar mengenai hakikat diri, kehidupan, dan alam semesta, termasuk berbagai hukum yang mengaturnya, seperti hukum sebab-akibat (karma), saling ketergantungan, ketidakkekalan, serta prinsip-prinsip kebenaran yang menjadi landasan bagi pembentukan karakter (Susila) dan pelaksanaan praktik spiritual (Upacara).
Susila, Upacara dan Tattwa haruslah segaris, saling terkait, saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan Dharma yaitu Mokshartam dan Jagadhita. Di dalam Susila ada upacara dan tattwa, di dalam upacara ada susila dan tattwa dan di dalam tattwa ada susila dan upacara. Tattwa, suśīla, dan upacara bukanlah tiga unsur yang terpisah, melainkan tiga dimensi yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Ketiganya harus berjalan searah, saling terkait, dan saling mendukung untuk mengantarkan manusia menuju tujuan Dharma, yaitu Moksartham Jagadhita: kebebasan batin (mokṣa) serta kehidupan yang damai, harmonis, dan sejahtera (jagad-hita).
Tattwa memberikan pemahaman yang benar. Suśīla membentuk karakter yang luhur. Upacara menyediakan metode dan praktik untuk menginternalisasikan pemahaman serta membentuk karakter tersebut. Oleh karena itu, ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Di dalam Tattwa terkandung nilai-nilai yang melahirkan Susila dan diwujudkan melalui Upacara. Di dalam Susila hidup pemahaman Tattwa dan diekspresikan melalui Upacara. Di dalam Upacara terkandung ajaran Tattwa yang menumbuhkan Susila. Ketiganya saling meresapi sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.
Dengan begitu, Susila bukan sekadar etika, melainkan karakter luhur yang telah menjadi sifat alami seseorang. Upacara bukan sekadar ritual, melainkan cara atau metode yang mendekatkan manusia kepada tujuan Dharma. Tattwa bukan sekadar pengetahuan, melainkan cara pandang yang benar yang mengarahkan seluruh proses transformasi.
Karakter yang baik (Susila) adalah salah satu cara yang mendekatkan (Upacara) manusia kepada kebahagiaan tertinggi (Mokṣa). Demikian pula, mempelajari Tattwa merupakan upacara karena mendekatkan seseorang kepada kebijaksanaan. Melaksanakan upacara dengan penuh kesadaran merupakan praktik pembentukan susila. Ketika seseorang hidup berdasarkan Tattwa, memiliki susila, dan menjalankan upacara dengan benar, sesungguhnya ia sedang menempuh satu jalan yang sama menuju moksartham Jagadhita.
Sekali lagi; tattwa, susila, dan upacara bukanlah tiga jalan yang berbeda, melainkan tiga aspek yang tidak terpisahkan dari satu proses transformasi manusia menuju kebijaksanaan, karakter luhur, kesejahteraan, dan pembebasan.
Jika sila dipahami sebagai karakter atau kualitas batin yang telah menetap, maka pembentukan susila tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengelola emosi. Emosi yang muncul sesekali belum membentuk karakter. Namun, emosi yang terus-menerus muncul, tidak dikenali, tidak dipahami, dan tidak diregulasi akan berkembang menjadi kebiasaan batin. Kebiasaan yang diulang terus-menerus akhirnya mengkristal menjadi karakter.
Seseorang yang berulang kali dikuasai kemarahan akan lebih mudah membentuk karakter pemarah. Seseorang yang terus-menerus dipenuhi iri hati akan membentuk karakter yang penuh kecemburuan. Demikian pula, ketakutan yang terus dipelihara dapat berkembang menjadi karakter yang mudah cemas, sedangkan keserakahan yang tidak pernah dikendalikan dapat menjadi watak yang selalu merasa kurang. Karakter-karakter seperti inilah yang lebih mudah menimbulkan penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Sebaliknya, ketika seseorang belajar mengenali, memahami, dan meregulasi emosinya, ia sedang membangun kebiasaan batin yang baru. Sedikit demi sedikit, kemarahan berubah menjadi kesabaran dan kasih saying (maitri), kebencian menjadi welas asih (karuna), iri hati menjadi sukacita atas kebahagiaan orang lain (mudita), dan kegelisahan menjadi keseimbangan batin (upeksha). Kebiasaan-kebiasaan baik yang terus dilatih inilah yang akhirnya berkembang menjadi suśīla, yaitu karakter luhur yang telah menetap dalam diri.
Dalam konteks inilah, kemampuan regulasi emosi bukan sekadar keterampilan psikologis, melainkan salah satu metode paling penting dalam pembentukan susila. Regulasi emosi menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan Dharma dengan transformasi karakter.
Ironisnya, dalam kehidupan masyarakat Bali saat ini tersedia banyak bimbingan teknis untuk membuat sarana upacara, menari, memainkan gamelan, membuat sesajen, membangun pura, bahkan mempelajari tattwa. Semua itu merupakan warisan budaya yang sangat berharga dan patut dilestarikan. Namun, masih sangat sedikit ruang pembelajaran yang secara sistematis mengajarkan bagaimana mengenali, memahami, dan mengelola emosi agar seseorang benar-benar bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki susila.
Padahal, kemampuan inilah yang merupakan salah satu anak tangga terpenting dalam perjalanan Dharma. Tanpa pembinaan karakter melalui regulasi emosi, pemahaman tattwa dapat berhenti sebagai pengetahuan, dan pelaksanaan upacara dapat berhenti sebagai ritual. Sebaliknya, ketika regulasi emosi menjadi bagian dari latihan spiritual, tattwa menjadi hidup dalam cara pandang, upacara menjadi hidup dalam praktik, dan susila tumbuh sebagai karakter yang secara alami memancarkan kebijaksanaan, kedamaian, dan welas asih. Dengan demikian, Dharma tidak hanya dipahami dan dirayakan, tetapi sungguh-sungguh dihidupi.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi pentingnya tattwa maupun upacara. Sebaliknya, saya meyakini bahwa keduanya akan menjadi jauh lebih hidup apabila dilengkapi dengan pembelajaran yang sistematis mengenai pembentukan karakter melalui regulasi emosi. Mungkin inilah salah satu anak tangga yang selama ini belum banyak kita bangun bersama.
Apabila pandangan ini benar, maka pengembangan pelatihan regulasi emosi bukanlah upaya mengimpor konsep psikologi modern ke dalam Dharma, melainkan menghadirkan kembali salah satu proses penting yang secara hakiki telah terkandung dalam tujuan pembentukan susila: membangun karakter luhur yang membawa manusia semakin dekat kepada Moksartham Jagadhita.