Kejahatan atas nama Kebaikan Si Bhiksu Jahat

Di pancasila (lima aturan dasar) umat Buddha salah satunya adalah menghindari mengkonsumsi makanan dan minuman yang memperlemah kesadaran, dalam hal ini salah satunya adalah alkohol. Ini bukan berarti Buddha menentang alkohol. Buddha memberi aturan ini kepada mereka yang hendak belajar Dharma.

Perlu diketahui bahwa penjahat terbesar ketika Buddha masih hidup adalah seorang Bhiksu yang tidak minum alkohol. Bukan saja tidak minum alkohol tapi dia juga vegetarian. Dia memaksa agar semua bhiksu vegetarian murni. Tapi Buddha menolak hal itu sebab bhiksu-bhiksu murid sang Buddha hidup dari menerima sedekah masyarakat. Para bhiksu memakan makanan apa pun yang diberikan masyarakat ke dalam mangkok mereka tanpa boleh pilih-pilih. Bhiksu jahat itu pun juga adalah murid Buddha sekaligus masih keluarganya. Masih sesama pangeran dari kerajaan Kapilawastu. Namanya adalah Devadatta.

Devadatta adalah seorang praktisi yang hebat. Dari kekuatan latihan konsentrasi pikirannya ia memperoleh berbagai kesaktian bahkan bisa menembus dinding dan terbang. Walau pun mencapai kesaktian tapi iri hati dan serakahnya belum hilang. Ia belum mencapai tingkat kesucian apa pun. Ia belum mencapai level kesucian Arahat, juga belum anagami, sakadagami bahkan sotapana pun belum. Iri hatinya lama lama menjadi dengki dan benci. Dari situ ia melakukan banyak kejahatan bahkan berusaha membunuh Buddha.

Banyak pelaku kejahatan merasa mereka berada di jalan kebaikan. Khususnya mereka yang religius dan termakan doktrin sehingga kehilangan nuraninya. Kejahatan yang seperti ini sulit disadarkan. Sebab dia merasa benar, merasa di jalan agama. Berbeda dengan penjahat biasa yang merasa bersalah ketika melakukan kejahatan dan tau mereka salah walau pun tetap melakukan kejahatan.

Di negeri ini mudah dijumpai orang yang merasa religius melakukan kekerasan dengan alasan memerangi maksiat dan alkohol. Bahkan bom Bali 1 dan bom Bali 2 yang membunuh beberapa ratus orang dan meluluh lantakkan perekonomian Bali ketika itu diledakkan di Bar oleh orang yang religius, oleh orang yang merasa ada di jalan yang benar, di jalan yang suci, dan menganggap itu sebagai perjuangan.

Hati-Hati..

Hati-hati dengan kebaikan.. Hati-hati dengan merasa benar dan suci.

Ingat.. sekali lagi ingat.. sumber kejahatan bukan di luar; bukan pada alkohol, bukan pada uang, bukan pada sex, bukan pada apa pun yang di luar kita. Sumber kejahatan ada di pikiran dalam wujud keserakahan, keangkuhan, iri, dengki dan kebencian. Di pikiran yang tidak mengenali hakikat sejati fenomena.

Jadilah lebih dewasa dan berhenti menuduh hal-hal luar sebagai sumber kejahatan. Kenali dan pahami pikiran dan mekanismenya.

Dari status facebook @gedeagustapa  4 maret 2021

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *