Duka, Luka & Buddha
Kita semua terluka karena satu dan lain hal. Terluka secara emosional, secara bathin. Ada yang sadar dia terluka dan ada yang tidak sadar. Yang sadar terluka segera ia mencari obat, mencari jalan menuju kesembuhan. Dan kesembuhan yang sejati, yang tertinggi, adalah ketia ia merealisasi keBuddhaan. Sebelum mencapai itu, kita akan dengan mudah terluka lagi walau pun kita pikir kita sudah sembuh, sudah pulih.
Memang begitu hidup ini; ada duka ada luka, ada penyebab duka dan luka, ada akhir dari duka dan luka, ada cara mengakhiri duka dan luka-luka itu dan karenanya sepenuhnya tersembuhkan.
Semua tradisi Dharma; Siwa, Buddha, Waisnawa, Jaina, Sakta, Yoga, dan yang lainnya sepakat bahwa penyebab duka dan luka adalah avidya yang artinya secara umum diterjemahkan sebagai ketidak tahuan. Dalam bahasa Pali yang digunakan oleh tradisi Buddha Theravada adalah avija. Tapi penterjemahan sebagai ketidak tahuan kurang lah tepat. Sebab dalam bahasa Indonesia mengetahui atau pengetahuan bisa diterjemahkan sebagai hanya sekedar informasi, mengetahui hanya sekedar intelek. Avidya atau Avija lebih tepat diterjemahkan sebagai tidak mengenali (not recognizing). Arti dari avidya diantaranya adalah tidak melihat dengan jelas, penglihatan yang kabur, bodoh, tidak tahu.
Avidya nama lainnya adalah Moha, yang artinya juga sama yaitu tidak melihat dengan jelas. Melihat tali dikiranya ular lalu ketakutan sendiri, menderita sendiri, terluka sendiri.
Buddha Gautama sering mengibaratkan diri beliau sebagai dokter mata yang menghilangkan katarak pada mata pasiennya ketimbang sebagai seorang filsuf. Jadi semua usaha Buddha adalah supaya kita melihat dan mengenali kesejatian dari fenomena ini. Apa sih sejatinya dari duka dan luka ini, apa sih penyebabnya, apa sih akhir dari duka dan luka ini, dan melihat langsung cara mengakhiri duka dan luka ini.
Arti kata Buddha adalah Ia yang sudah terjaga, yang sudah melihat dan mengenali hakikat sejati dari segala fenomena ini dengan sempurna. Sudah tidak lagi tertidur dan bermimpi, sudah tidak lagi mengira tali sebagai ular.
Dan semua orang, semua makhluk cepat atau lambat pada akhirnya harus terjaga dan menjadi Buddha. Entah di kehidupan ini, atau 2 kehidupan berikutnya, atau 1000 kehidupan berikutnya atau di satu juta kelahiran berikutnya. Semua makhluk tanpa terkecuali akan menyadari dan terjaga akan keBuddhaannya.
Om…
Sarwa Buddha namo namaha.
Dari status facebook @gedeagustapa 20 Agustus 2020