Homo Homini Lupus & Homo Homini Socius

Di kesadaran yang lebih rendah, ada benarnya pernyataan Plautus seorang filsuf dari tahun 195 Sebelum Masehi bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dalam bahasa kunonya Homo Homini Lupus.

Di kesadaran yang lebih rendah, manusia adalah makluk kanibal. Saling mangsa, saling serang, yang penting keperluannya sendiri jalan. Perduli setan dengan pihak lain. Orang-orang seperti ini mudah dijumpai. Kenyataannya memang lah orang dengan kesadaran rendah jauh lebih banyak dari yang kesadarannya tinggi.

Seneca menentang peryataan itu dan mencetuskan bahwa manusia adalah penyelamat bagi manusia lainnya. Atau manusia adalah dewa penolong bagi manusia lainnya. Homo Homini Socius.

Thomas Hobes dalam karyanya di tahun 1651 yang berjudul De Cive, menulis bahwa keduanya benar. Manusia bisa menjadi dewa penolong bagi sesamanya, bisa menjadi berkah bagi sesamanya. Tapi ada juga manusia kelas srigala pemangsa. Kita mempunyai kedua potensi itu; menjadi dewa penolong dan menjadi srigala pemangsa. Kita bisa menjadi berkah bagi sesama kita tapi bisa juga menjadi parasit pemangsa sesama kita.

Di kehidupan sehari-hari kita tidak boleh melupakan ini supaya kita selamat. Harus selalu waspada supaya tidak terjebak. Yang susah adalah dengan srigala berbulu domba. Manis di depan kita, tapi penuh tipu muslihat.

Selalu waspada dengan srigala di dalam diri kita dan juga yang dari luar. Dan terus menerus mengusahakan untuk menjadi berkah bagi sesama manusia dan juga semua makluk.

Dari status facebook @gedeagustapa  4 september 2021

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *