Jika BerGuru

Jika berguru pada seseorang, menimba ilmu darinya, walau satu atau dua hal saja, terinspirasi olehnya dan membuat kita bertransformasi, maka orang itu adalah Guru kita. Apa kata orang biarkan saja. Jangan ikut menjelek-jelekkan. Jangan goyah walau pun orang mengatakan ia adalah Guru palsu, bahkan jika seluruh dunia mengatkan Ia adalah palsu. Ini adalah sikap dalam berguru. Siapa pun Guru kita; Satya Sai Baba, J Krishnamurti, Guruji Gede Prama, Osho, Guruji Anand Krishna, Ratu Bagus, Prabhupada, atau Rinponce atau Bhante atau Sulinggih mana pun, akan selalu ada orang yang tidak suka dan menjelek-jelekkannya.

Ini bukan berarti kita tidak boleh berguru pada orang lain selain Guru kita yang sekarang, tentu saja boleh. Tapi sikap menjelek-jelekkan Guru yang harus dihindari. Karena bagaimana pun kita sudah berhutang.

Seseorang bisa saja menolak menjadi Guru bagi orang lain dan memilih kita sebagai murid, bisa saja Ia menolak menjadi Guru bagi banyak orang dan memilih kita menjadi muridnya, bisa saja ia tidak ingin menjadi Guru yang terkenal dan memilih mengajar dengan sembunyi-sembunyi hanya pada sekelompok orang atau orang-orang tertentu saja. Apa urusan orang lain dalam hal ini? Apalagi berguru spiritual, bahkan keluarga pun tidak berhak mencampurinya, sebab sifatnya sangat pribadi dan rahasia. Pencarian spiritual sangat pribadi.

Sri Krishna adalah Guru bagi Arjuna. Tetapi Sri Krishna adalah musuh dari Kurawa dan gerombolannya. Tentu saja Sakuni akan menjelek-jelekkan Krishna. Sakuni akan bilang bahwa Sri Krishna adalah manusia palsu, penipu, tukang sulap, perebut istri orang, playboy dan sebagainya. Apa urusannya Sakuni dalam hubungan Krishna dengan Arjuna? Orang luar boleh saja mengoceh apa pun. Tapi bagi Arjuna yang sudah belajar banyak dari Sri Krishna, dibimbing olehnya, dijaga, dilindungi, terinspirasi olehnya maka Sri Krishna adalah Guru bagi Arjuna, tak perduli apa pun kata dunia.

Di masa lalu, orang-orang banyak yang merahasiakan hubungan Guru-Murid. Bahkan jika mereka bertemu di jalan, berpapasan di keramaian, mereka pura-pura tidak saling kenal. Guru Padmasambhava pun dikatakan beberapa kali menolak memberi tahu siapa Guru beliau.

Jangan dibiasakan mudah goyah, mudah ikut menjelek-jelekkan, apalagi setelah kita menerima ajaran, terinspirasi, dan bertransformasi menjadi lebih baik. Sebaiknya menjaga jarak dan menjauh dari mereka yang menjelek-jelekkan Guru kita. Karena kalau dekat-dekat nanti kita bisa tertular racun padahal kita sudah berhutang pada Guru kita. Dan hutang pada Guru mustahil untuk dibayar. Sungguh berbahaya dan buruk sekali karmanya ia yang telah menerima kebaikan dari Guru kemudian akhirnya menjelek-jelekkan Guru.

Dari status facebook @gedeagustapa 10 april 2021

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *