Sungguh Lama

Rentang usia manusia 80 – 100 tahun adalah lebih singkat dari sekelebatan petir jika dibandingkan dengan 1 kalpa.

Ada yang menterjemahkan 1 kalpa sebagai 3.4 milyar tahun. Namun ada yang membagi menjadi kalpa kecil, menengah dan panjang. Di salah satu sumber menyebutkan kalpa panjang lamanya mencapai 12.8 triliun tahun.

Sang Buddha memberikan perumpamaan mengenai kalpa ini. Sebuah kotak dengan panjangnya 1 yojana (14 km), lebarnya 1 yojana, tingginya 1 yojana, mulai diisi dengan 1 biji wijen setiap 100 tahun sekali sampai kotak itu penuh, ketika kotak itu penuh masa satu kalpa belum lah berakhir. Masih lebih panjang masa satu kalpa itu dibandingkan waktu yang diperlukan untuk mengisi kotak itu setiap 100 tahun sekali dengan 1 biji wijen.

Makluk-makluk Brahma dan Maha Brahma yang lahir di alam Rupa Brahma (Brahma dengan unsur materi) dan Arupa Brahma (Brahma tanpa unsur materi) dikatakan memiliki umur hingga berkalpa-kalpa.

Kedengarannya tidak masuk akal ya. Tapi ada makluk-makluk yang umurnya cuma 1 hari atau 4 hari atau 7 hari. Nyamuk umurnya 4 hari. Nyamuk mungkin tak pernah terpikir ada makluk umurnya sampai 80 tahun atau sampai 200 tahun. Salah satu spesies Ikan paus dapat hidup sampai di atas 200 tahun.

Selama belum tercerahkan makluk-makluk mengembara kesana kemari di berbagai alam. Kadang ia masuk ke neraka dan lama di sana, kadang ia masuk ke alam hantu, alam binatang, manusia, raksasa, masuk ke surga dan jadi dewa dan juga menjelma di alam Brahma menjadi Brahma. Semua itu tergantung karma dan kualitas bathinnya. Di ajaran Buddha, pertapa-pertapa yang belum tercerahkan tapi memiliki kemampuan dhyana atau jhana yang sangat kuat ia dapat lahir di alam-alam Brahma. Nyaris abadi bagi ukuran waktu di alam manusia.

Menjadi manusia sangat singkat waktunya jika dibandingkan dengan berkalpa-kalpa. Tapi di waktu yang teramat sangat singkat ini ada peluang untuk terbebaskan dari kelahiran kembali yang berulang-ulang. Selama persepsi tentang diri kuat dan berbagai kemelekatan kuat, makluk-makluk mengembara di alam-alam samsara, di alam-alam keinginan, di kamaloka.

Manusia-manusia yang beruntung, yang sudah memperoleh ajaran, jangan disia-siakan kesempatan ini. Tidak semua manusia beruntung, tidak semua memperoleh ajaran tentang pembebasan, tidak semua punya waktu luang untuk berlatih. Oleh karenanya, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Jangan terkecoh oleh hal-hal remeh. Mati-matian memperjuangkan hal remeh lalu kesempatan untuk terbebaskan terabaikan setelah mati jatuh ke alam-alam rendah. Menyedihkan sekali. Berlatih.. Renungkan ketidak kekalan, renungkan penderitaan di alam-alam rendah, renungkan betapa beruntungnya kelahiran yang mengenal ajaran Dharma… Kemudian berlatih dengan tekun, berjuang dengan gigih sampai pembebabasan tercapai. Sabda terakhir sang Buddha adalah; Appamadena sampadheta..Berjuanglah dengan gigih, dengan penuh kesadaran hingga pembebasan tercapai

Dari status facebook @gedeagustapa 6 Juli 2022

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *