Seorang Pertapa
Setelah mengetahui keadaan itu, keadaan yang melampaui tubuh dan segala struktur mental itu, bagian terberatnya adalah tetap berada di keadaan itu. Sehingga penguatan perlu terus-menerus dilakukan.
Jika belum kuat, maka dengan mudahnya kita tergelincir dan mengambil peran di fenomena mimpi. Dunia yang kita hadapi ini juga adalah mimpi. Ketika tidur muncul berbagai gambar dan peran, juga adalah mimpi. Jadi mimpi ada 2 yang dimaksud oleh pernyataan “tergelincir ke fenomena mimpi” : mimpi dengan mata terbuka saat kita terjaga di keseharian, dan mimpi di waktu kita menutup mata saat tidur.
Tidak mudah untuk tetap sadar akan keadaan itu selagi tidur. Perlu penguatan latihan di keadaan jaga.
Oleh karenanya dalam postur apa pun, kapan pun, di mana pun, tetap berada di keadaan itu. Di keseharian aplikasikan kesadaran ganda; sadar akan objek di luar dan juga sadar akan sumbernya kesadaran. Sederhana, tetapi tidak mudah. Perlu penguatan terus menerus.
Dengan melatih ini, maka seseorang dapat dikatakan sebagai pertapa. Sekali pun dia tidak menggunakan jubah dan berada di keramaian mall dan dunia, berada di rumah bersama anak dan istrinya dan keluarganya. Dia adalah seorang pertapa.
Dari status facebook @gedeagustapa 12 juni 2019