Sebab & Kondisi
Sebab adalah benih. Kondisi adalah cuaca, iklim, musim. Seperti benih jagung atau kacang, begitulah benih karma baik atau benih karma buruk. Benih menunggu kondisi yang tepat untuk tumbuh dan berbuah. Jika seseorang punya benih tapi iklim dan cuaca dan musim tidak mendukung, maka benihnya tidak dapat tumbuh dan dipanen. Jika seseorang tidak punya benih walau pun cuaca, musim, dan iklim mendukung ya tentu tidak akan ada yang tumbuh dan tidak ada yang dipanen.
Ada istilah di dalam tradisi Dharma yang namanya Pratitya Samupada (sanskrit) atau Pratica Samupada dalam bahasa Pali yang artinya “Sebab dan kondisi yang saling bergantungan, atau Sebab musabab yang saling bergantungan” atau dalam bahasa inggrisnya “Interdependent Origination”. Di Bali kata Pratitya Samupada berkaitan erat dengan ilmu penanggalan kalender Bali. Kalender Bali sangat detail menganalisa hubungan alam dewa, fenomena alam, iklim, cuaca, alam bawah, letak bintang, aktivitas naga, dll. Pratitya Samupada ini sangat detail dijelaskan dalam ajaran Buddha, asalnya memang dari ajaran Buddha.
Di ajaran Tantra ada istilah “metode-metode yang piawai” untuk menciptakan kondisi agar sebabnya dapat berbuah. Ini semacam enginering karma ya. Jadi kondisi yang baik diciptakan oleh para master untuk mendukung berbuahnya karma baik. Tanahnya dibuat subur, disirami, hamanya dijauhkan. Tapi semua itu juga tidak bisa terjadi kalau benihnya tidak ada. Apanya yang mau berbuah jika benihnya tidak ada.
Kita mungkin beruntung sekarang, menikmati hidup yang layak, karena benih yang baik dan kondisi yang menunjang saling bertemu. Kemajuan pariwisata di Bali menbawa keberuntungan bagi banyak orang Bali. Tapi tidak semua orang di Bali dapat menikmati kondisi yang baik ini. Ada yang melarat sekali, padahal kondisi, iklim, cuaca, untuk beruntung ada. Artinya benihnya tidak ada, benih keberuntungannya tidak ada.
Contoh lainnya, benih pohon beringin yang ditanam di dalam pot bonsai. Benihnya tumbuh tapi tidak bisa besar karena kondisi untuk dia tumbuh besar tidak ada. Dia jadi pohon beringin yang kecil dan kerdil.
Di level individu, milikilah benih-benih yang baik, yang berkualitas. Di level makro usahakan agar kondisi yang mendukung tetap ada. Cari kondisi-kondisi yang memungkinkan benih karma baik berbuah dengan maksimal. Itu kenapa di ajaran Buddha ada mengambil perlindungan pada komunitas spiritual, berlindung kepada sangha, berlindung pada kondisi yang baik, Sanggam Saranam Gachami (saya berlindung pada komunitas yang baik). Ada 3 perlindungan di dalam ajaran Buddha yang 2 lainnya adalah berlindung pada guru yang terjaga sempurna, pada guru yang telah menyadari tak terpisahkannya sunyata (kekosongan) dengan segala fenomena, tak terpisahkannya sunyata dengan kebahagiaan, tak terpisahkanny sunyata dengan kasih sayang. Buddham Saranam Gachami (saya berlindung kepada guru yang terjaga sempurna). Dan pada ajaran Dharma, pada hakikat sejati segala sesuatu. Dharmam Saranam Gachami (saya berlindung kepada Dharma).
Jaga benih baik yang kita punya. Kumpulkan benih yang baik. Dan selagi yang baik berbuah dan yang buruk belum tumbuh, sebisa mungkin capai pembebasan sepenuhnya dari jebakan karma.
Dari status facebook @gedeagustapa 11 Maret 2020