Roda Sengsara
Dewa Yama, Dewa Kematian, menggigit roda kehidupan. Artinya, apa pun yang ada di roda itu adalah mangsa bagi kematian, apa pun wujud yang kita ambil di lingkaran itu suatu hari kita akan dimangsa oleh Bhatara Yamadipati. Lingkaran roda ini disebut lingkaran samsara. Samsara artinya terus menerus berputar-putar. Kata samsara menjadi kata sengsara dalam bahasa Indonesia.
Di pusat roda kehidupan ada babi lambang kebodohan (avidya), lambang ketidak tahuan, lambang kebingungan, tidak mampu melihat realita dengan jernih (moha). Ada Ayam atau burung, lambang dari kemelekatan, keserakahan, ambisi (lobha). Ada gambar ular lambang dari ketidak-sukaan, iri hati, dengki dan benci (dosa). Indukya adalah si babi, induknya adalah ketidak tahuan, ketidak mampuan melihat dengan jernih pada hakikat dari fenomena. Darinya muncul keserakahan (lobha) yang digambarkan oleh ayam dan muncul kebencian (dosa) yang digambarkan oleh ular.
Lingkaran kedua dari pusat di bagian kanan adalah gambar binatang, setan kelaparan dan makhluk neraka. Gambar makluk yang jatuh ke alam bawah. Di sisi kanan adalah manusia, asura dan dewa. Gambar makluk yang naik ke alam yg lebih tinggi. Asura adalah makluk setengah dewa. Memiliki kekayaan dan kesaktian, hidup di surganya sendiri. Sangat senang berekspansi, berebut kekuasaan.
Lingkaran ketiga dari pusat lingkaran adalah penggambaran enam alam kehidupan. Dalat dibagi menjadi 3 atas dan 3 bawah. Dari atas ke kanan searah jarum jam: Yang paling atas adalah alam surga para dewa, yang kanan adalah gambar alam para asura, kanan agak kebawah adalah alam binatang, yang paling bawah adalah alam neraka, yang kiri bawah adalah alam hantu dan setan kelaparan, di atasnya itu di kiri di bawah surga para ,dewa adalah alam manusia. Siapa pun yang lahir di keenam alam itu mengalami kematian. Kabar baiknya adalah neraka pun tidak abadi. Selalu ada kesempatan untuk membebaskan diri, menyelinap pergi melompat ke luar dari roda samsara itu. Walau pun terkadang harus menunggu lama, bahkan sangat lama.
Gambar di lingkaran paling luar adalah penggambaran 12 mata rantai ke saling tergantungan(Pratityasamutpada) yang diawali dengan gambar orang buta di kanan atas sebagai lambang ketidak tahuan (avidya).
Di kanan atas adalah gambar Buddha. Ia yang sudah terjaga, yang sudah memahami hakikat dari fenomena, yang sudah menyadari hakikat dari keberadaanya sendiri, berada di luar roda samsara. Ia tidak lagi menjadi mangsa Dewa Yamadipati. Dari luar lingkaran roda sengsara Ia memanggil makluk-makhluk di alam samsara dan menunjukkan jalan menuju pembebasan.
Di kiri atas ada gambar bulan purnama lambang pencerahan. Memantulkan cahaya dari keberadaan yang maha agung, terang dan sejuk.
Melompatlah keluar selagi bisa. Sekarang, di kehidupan ini. Jangan sia-siakan.
Dari status facebook @gedeagustapa 25 april 2020