Para Pangeran Tidak ke Surga
Di tradisi Dharma ( Hindu, Buddha, Jaina) para Gurunya biasanya dari pangeran-pangeran. Banyak sekali pangeran menjadi pertapa, tercerahkan, kemudian menjadi Guru. Puas dengan kehidupan istana lalu mengembara mencari makna hidup, menemukan jawaban mengenai apa sih realita ini. Dan mereka adalah para pangeran dari kerajaan besar yang subur makmur, dari tempat yang berkelimpahan, dengan pertanian maju, air mudah di dapat, sungai-sungai mengalir di banyak wilayah, tanaman mudah tumbuh, berbagai karya sastra dan ilmu pengetahuan berkembang maju.
Itu kenapa di tradisi Dharma jarang sekali yang menginginkan kenikmatan surga. Hidup mereka sudah seperti surga. Bahkan sampai muak dengan kenikmatan lalu berusaha mencari sesuatu yang lebih dalam dari sekedar kenikmatan. Di tradisi Dharma jika seseorang mendamba kenikmatan surga dan surga dan surga, maka dia dianggap sangat duniawi, manusia yang rakus, manusia dengan kapasitas yang rendah.
Masa kecil sang Buddha adalah seorang pangeran. Seorang pangeran kerajaan Kapilawastu, putra dari raja Sudhodhana dan ratu Maha Maya. Dari kecil pangeran Sidharta dirawat dengan baik. Dikelilingi dayang-dayang istana. Beliau adalah putra makhota pewaris tunggal kerajaan.
Sri Rama juga pangeran, pewaris tahta kerajaan Ayodhya. Putra dari prabhu Dasharatha dan ratu Kausalya. Kerajaan Ayodya adalah kerajaan besar pada waktu itu. Sebagai putra makhkota Sri Rama sangat dihormati dan disayang. Dan tentu dirawat dengan sangat baik.
Sri Krishna juga adalah seorang pangeran. Lahir di penjara kemudian dibesarkan di desa Vrindawan oleh kepala desa bernama Vasudeva. Vasudeva adalah orang terkaya di desanya, memiliki banyak sapi. Sehingga Krishna hidup terawat dengan baik. Krishna menggembalakan banyak sapi di masa kecilnya. Krishna biasa mengintip para gadis gembala mandi di sungai, bahkan menyembunyikan pakaiannya. Walau pun nakal tapi Krishna sangat di sayang oleh orang-orang di desanya. Setelah dewasa dia merebut lagi kerajaan orang tuanya yg dikuasai pamannya, Kamsa.
Mahavira, tirtankara (semacam nabi) agama Jaina juga pangeran, Padmasambava, Atisha, Boddhidharma, Anurudha, Dharmakirti, dan lainnya. Semuanya pangeran dari kerajaan besar. Dan mereka meninggalkan semua kemewahan istana, menjadi Guru, mengajarkan jalan menuju pembebasan, tidak pergi ke surga, tidak ke neraka, tidak menjadi manusia, tidak menjadi hantu dan setan kelaparan, tidak menjadi binatang. Mereka mengajarkan jalan pembebasan, moksha, nirvana.
Dari status facebook @gedeagustapa 5 desember 2019