Menyiapkan Momen Kematian
Latihan meditasi kita haruslah berhubungan dengan momen kematian. Entah itu meditasi nafas, vipasana, praktek istadewata menggunakan berbagai perwujudan dewa dan dewi, mahamudra atau dzogchen. Ini lah tujuan ajaran-ajaran Dharma dari anak benua India yang pada masa lalu terbentang dari Afganistan sana hingga Himalaya. Tidak hanya memuja Tuhan untuk memberi ini dan itu di kehidupan dan menghancurkan segala hal yang tidak kita sukai, tetapi menyiapkan momen kematian.
Karena momen kematian adalah momen yg penting. Momen persimpangan apakah akan jatuh ke alam penderitaan di bawah, atau naik ke alam atas yang penderitaannya lebih sedikit, atau terbebaskan dari lingkaran penderitaan di alam samsara.
Kenapa ajaran Dharma dan para Buddha dan para yogi, para rshi zaman dulu menekankan pada pembebasan? Karena welas asih beliau kepada semua makhluk. Beliau melihat penderitaan-penderitaan yang menunggu di depan karena karma-karma buruk kita dan karena ketidak tahuan kita. Mereka melihat makhluk-makluk yg terpleset ke alam bawah dan menderita di sana dalam jangka waktu yang lama bahkan sangat lama.
Menjadi manusia yang beruntung susah sekali di dapatkan. Sedikit yg punya berkah bertemu ajaran, bertemu Guru, memiliki banyak waktu luang untuk belajar dan berlatih, sedikit yang mampu mencapai realisasi dengan kokoh. Jadi, jangan sia-siakan. Jika teman-teman ada yang tertarik belajar meditasi dan spiritual jangan mudah teralihkan dengan hal-hal remeh seperti sejarah, budaya, mencari sensasi, mencari energy, mengait-ngaitkan spiritual dehan rejeki dan kelimpahan. Jangan, usahakan jangan. Tembak langsung ke pembebasan. Jadikan pembebasan sebagai motivasi utama apa pun harganya. Biarkan yang lain urusan no 2.
Momen kematian sebagaimana layaknya mimpi, apa pun bisa muncul di keadaan itu. Perwujudan menyenangkan, perwujudan menyeramkan, dan semua begitu nyata layaknya segala sesuatu yang kita lihat di dalam mimpi saat tertidur. Apakah kita memiliki confident bahwa semua itu adalah maya, ilusi, tidak nyata? Latihan-latihan kita harus mampu menciptakan confident bahwa semua itu tidaklah nyata, dan membuat kita mampu mengenali keadaan yang melampaui kelahiran dan kematian. Sebab jika gagal di momen kematian, maka kita harus menjalani tubuh yg kita terima dan ada besar kemungkinan kita jatuh ke alam bawah. Susah untuk lepas dari alam bawah dan kembali mengambil badan manusia atau menjadi manusia dengan berbagai fasilitas yang mendukung untuk mencapai pembebasan.
Dan ingat… !!! Kematian datang setiap saat. Dan kita berpikir bukan kita yang mati, selalu orang lain yang mati. Bahkan jika usia kita mulai renta kita selalu berpikir bahwa yang mati selalu orang lain, bukan kita. Oleh karenanya renungkanlah kematian, renungkan kelahiran kembali di alam penderitaan supaya motivasi kita untuk mencapai pembebasan menjadi kuat.
Waspadalah,.. Waspadalah..!!!
Dari status facebook @gedeagustapa 29 juni 2020