Meditasi Untuk Manusia

“Apakah meditasi ini boleh diikuti oleh semua agama?” Tanya salah satu peserta meditasi di penjara. Di akhir sesi saya baru tau kalau dia berasal bukan dari agama Hindu atau Buddha. Kemarin adalah untuk yang ketiga kalinya dia ikut. Di pertemuan pertama dia menangis sedih, di pertemuan kedua menangis terharu bahagia, di pertemuan ketiga lebih stabil. Dia merasa lebih peka, lebih mudah terharu, muncul welas asih di dalam dirinya. Ternyata memang dia rajin berlatih. Sebuah progress yang cepat.

Tentu saja boleh. Dalam meditasi kita tidak sedang memuji Tuhan versi agama tertentu, tidak ada doa, tidak ada belajar agama, tidak juga ada membandingkan agama-agama, dan tidak dipaksakan untuk yakin. Selama ia punya pikiran dan emosi-emosi, tentu boleh ikut. Dan semua manusia punya ini.

Pikiran yang tidak tenang, emosi-emosi yang tidak terkendali, adalah sumber penderitaan, membuat kita tidak bahagia. Di meditasi duduk ini kita mengistirahatkan tubuh dalam postur yang benar, mengistirahatkan pikiran dalam kesadaran. Ini yang kita latih. Sehingga tidak perlu ada doa, tidak perlu membahas Tuhan, sebab doa dan membahas Tuhan artinya pikiran sibuk berkata-kata, tidak beristirahat.

Jika pikiran kita tenang, emosi-emosi kita stabil dan tenang, kita beristirahat dalam kesadaran, maka kita akan bahagia. Jika kita tenang dan bahagia, maka kemarahan dan kebencian tidak dapat muncul, serakah dan angkuh tidak muncul. Dengan tidak munculnya hal-hal itu maka seseorang dapat dikatakan menjalani kehidupan yang suci. Sesederhana itu.

Kesadaran diperlukan untuk menjaga istirahat kita. Kesadaran adalah seperti para pengawal istana sehingga sang raja dapat beristirahat tanpa khawatir. Dengan adanya kesadaran maka kemarahan dan semua kekotoran bathin yang membuat kita menderita yang sudah muncul dapat disingkirkan, yang belum muncul dapat dicegah kemunculannya. Dengan kesadaran istirahat menjadi semakin kokoh, dengan begitu menjadi semakin bahagia.

Semua orang menginginkan bahagia, bukan hanya manusia, tapi semua makhluk. Di meditasi kita mengembangkan kebiasaan berbahagia. Jadi, tentu boleh untuk semua agama, untuk semua manusia.

Dari status facebook @gedeagustapa 10 mei 2019

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *