Mayadanava adalah si Babi
Si Babi sumber masalahnya.
Si Babi adalah kebodohan, ketidaktahuan, avidya, moha. Si Babi adalah lambang dari ketidaktahuan, lambang dari kebodohan, lambang dari ketidakmampuan melihat lebih jelas ke dalam inti sejati dari fenomena. Si Babi adalah sebab munculnya si ular (kebencian/ dosa)dan si ayam (keserakahan/lobha). Si ular adalah sikap bathin yang menolak. Si ayam adalah sikap bathin yang menggenggam. Menggenggam dan menolak ada karena ketidakmampuan melihat kesejatian fenomena. Si Babi, si Ular, dan si Ayam ketiganya adalah lambang dari tiga racun spiritual. Tiga racun utama: Loba, Dosa, Moha.
Maya artinya ilusi, palsu, bukan yang sejati.
Danava artinya setan, raksasa, demon, devil.
Mayadanava dalam bahasa inggris adalah the Devil of illusion, dalam bahasa Indonesia Setan ilusi, setan kepalsuan.
Karena si Babi ada maka Setan ilusi ada. Karena kebodohan dan ketidakmampuan melihat pada inti sejati fenomena maka ia dikuasai oleh setan ilusi. Mengira setan ilusi adalah kebenaran sejati. Setan ilusi hanya membawa penderitaan. Penderitaan yang terus menerus yang disebut samsara.
Untuk terbebaskan dari setan kepalsuan maka si Babi harus di potong. Ini adalah pendekatan Tantra. Langsung ke akar persoalan. Si Ayam dan si Ular adalah anak buah dari si Babi. Jika si Babi belum disembelih maka si Ular dan si Ayam akan selalu muncul. Tapi jangan dikira ini Babi biasa yang dipelihara peternak. Tidak ada hubungannya si Babi yang dipelihara peternak dengan si Babi Mayadanava, si Babi Setan Kepalsuan. Memotong si Babi peternak tidak akan dapat mengalahkan si Mayadanava, tidak akan dapat mengalahkan dan menyibak tabir adharma, tidak akan dapat mengalahkan kepalsuan fenomena.
Jika si Babi Setan ilusi telah disembelih maka seseorang telah menang atas ketidak sejatian. Ia telah melihat Dharma, yang sejati. Adharma, yang tidak sejati, kepalsuan, telah kalah. Tepat setelah si Babi di sembelih maka itu adalah hari kemenangan. Setan ilusi telah dilenyapkan. Adharma (Kepalsuan, yang tidak sejati, yang maya) telah sirna sebagaimana gelap yang seketika lenyap ketika cahaya hadir. Mereka yang telah melihat yang sejati, yang telah melihat kesejatian fenomena, adalah yang disebut merayakan kemenangan. Mereka yang tidak melihat itu, secara hakikat tidak dapat disebut merayakan kemenangan Dharma atas Adharma. Mereka yang tidak melihat kesejatian fenomena yang kosong dan tanpa diri masih lah mereka menuhankan si Setan Kepalsuan. Junjungan mereka masih si Mayadanava, masih lah mereka dikuasai setan ilusi.
Ketika yang sejati sudah dilihat maka semuanya menjadi manis. Hidup menjadi perayaan. Kemenangan yang manis. Manisnya kemenangan. Sang yogi menikmati manisnya samadhi, menikmati manisnya energi dirinya yang membawa suka cita, blissfull. Di level fisik ia menikmati suka cita dari nadi Ida, Pigala dan Sumsuma. Beristirahat ia pada Sang Sadar yang melampaui segalanya.
Seiring dengan berjalannya waktu kebijaksanaannya semakin bertambah, ia mengetahui apa yang patut diketahui dalam evolusi spiritual makhluk-makhluk. Ia uning, ia memiliki pengetahuan, ia adalah pengetahuan itu sendiri, kawuningan.
Begitulah pesannya para sesepuh di Pulau Dewata yang kuterjemahkan untuk sahabatku para pencari. Sebagian orang dapat menangkap makna terdalamnya. Sebagian besarnya tidak. Sebab memang begitu evolusi makhluk-makhluk. Sedikit yang beruntung. Sedikit makhluk yang tabungan karma baiknya berlimpah.
Dari status facebook @gedeagustapa 3 agustus 2023