Mahasidha Pengusir Wabah & Bhakti
Dengan tetap menghormati kemajuan sains di bidang kesehatan, di cerita-cerita Hindu dan Buddha khususnya tradisi yoga, tantra dan siddha, ada banyak cerita dimana Mahasidha melindungi desa dari serangan wabah. Syaratnya selalu sama; masyarakat yang penuh bhakti. Di India dan Tibet (dan sekitar Himalaya) ada beberapa kisah mengenai ini. Di Bali juga ada dan di Nusantara semestinya juga ada mengingat tradisi pertapaan adalah tradisi yang umum di masa lalu. Energi dari Mahasidha ini berbeda dengan energi kita orang biasa. Mereka adalah manusia dengan tingkat pencapaian spiritual yang luar biasa.
Salah satu kisah Mahasidha yang masih dekat dengan kita adalah Shirdi Sai Baba (1838 – 1918). Di Desa di tempat beliau tinggal dan masyarakat yang penuh bhakti pada beliau terhindar dari wabah, sementara desa tetangga terserang wabah.
Bhakti adalah hal yang sulit bagi masyarakat modern karena masyarakat modern cenderung berpikir, menganalisa, meragukan, berfilsafat. Bhakti adalah sebuah kepolosan, ada kerendahan hati di dalamnya, ada cinta, ada rasa hormat yang mendalam. Bhakti juga bukan hal-hal luar walau pun memang bhakti mengekspresikan dirinya dengan berbagai atribut luar. Susah mendeskripsikan bhakti ini kepada mereka yg tidak lahir dan tumbuh di tradisi bhakti.
Bhakti tidak digerakkan oleh ketakutan. Misalnya karena takut neraka atau takut celaka atau takut disiksa dan dihukum tuhan nantinya dan karena itu berbhakti. Tidak, tidak begitu. Itu bukan bhakti tapi ancaman, paksaan dan penjajahan. Bhakti berbeda, bhakti adalah hubungan cinta, kasih sayang, dan rasa hormat yang mendalam. Dan karena ada cinta, ada kasih sayang, dan ada rasa hormat yang mendalam maka bhakti mampu membangkitkan energi. Dan jika energi kita bagus secara otomatis daya tahan tubuh kita meningkat. Ketakutan dan paksaan tidak dapat membangkitkan energi yang ada justru menguras energi.
Ada yang menyebut dirinya sebagai pengikut Bhakti Marga (Jalan Bhakti) tetapi berfilsafat, mendebat dan menyerang tradisi lain. Ini sama sekali bukan bhakti yang benar, tapi lebih pada pseudo bhakti. Bhakti sama sekali tidak berfilsafat karena filsafat itu sendiri bukan jalan bhakti, bukan jalan hati tetapi jalan pikiran, akrobat pikiran.
Bhakti adalah sumber energi. Seperti seorang ibu yang menerobos api menyelamatkan anaknya dari rumah yang terbakar. Tanpa ketakutan sedikitpun dan tanpa filosofi. Energinya adalah dari cinta dan kasih sayangnya.
Tidak ada yang terjadi tanpa sebab dan kondisi. Hal-hal yang seperti keajaiban memiliki sebab dan kondisi yang baik. Dan Bhakti adalah sebab yang baik. Kita orang modern bhaktinya seperti kunang-kunang, kadang nyala lebih sering padam. Kayak PLN di pedalaman Sulawesi zaman dulu.
Dari status facebook @gedeagustapa 7 April 2020