Legenda Asal Mula Teh & Latihan Kita

Perhatian yang stabil dan kokoh berdiam pada satu objek dalam bahasa sansekerta disebut Dhyana, dalam bahasa Pali menjadi Jhana, dalam bahasa Mandarin menjadi Chan, dan dalam bahasa Jepang menjadi Zen. Dalam Patanjali Yogasutra, Dhyana adalah urutan ke 7 dalam astanga yoga: Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi.

Tidak perduli ajaran Buddha dari tradisi mana pun kita ikuti, Theravada, Mahayana, Tantrayana atau tradisi spiritual yang lain; yoga, Siwa, dll, melatih kestabilan perhatian adalah sebuah keharusan.

Diceritakan bahwa Bodhidharma menatap tembok selama sembilan tahun. Suatu ketika ia terserang rasa kantuk yang hebat. Jengkel karena kantuknya itu ia memotong kelopak matanya dan membuangnya. Dari kelopak mata yang dibuang itu muncul tanaman teh. Daun teh yang diseduh dengan pekat membuat orang melek, seperti minum kopi. Entah benar entah tidak, satu hal yang menginspirasi adalah kekuatan tekadnya. Di Mahayana salah satu dari enam paramita adalah kesempurnaan kekuatan tekad yang disebut Virya Paramita.

Bodhidharma adalah seorang pangeran kerajaan Palawa yang menjadi bhiksu. Ia juga masih saudara sepupu dengan raja Sriwijaya pada masa itu. Guru beliau bernama Prajna Tara diundang oleh kaisar Wu untuk mengajar di Tiongkok. Namun karena usia beliau sudah tua beliau mengirim muridnya untuk pergi ke China. Konon katanya Bodhidharma juga sempat singgah di Sriwijaya. Bodhidharma adalah yang mengajarkan kungfu di biara saolin dan mengintegrasikan kungfu dengan latihan meditasi. Ia menjadi sesepuh Chan/Zen pertama di Tiongkok.

Sebelum ke Tiongkok, Boddhidharma tentu sudah seorang yang tercerahkan itu kenapa guru beliau memilihnya. Setelah tiba di Tiongkok ia terus berlatih menyempurnakan samadhinya. Latihannya yang paling terkenal adalah menatap tembok selama sembilan tahun. Melotot menatap tembok, ia terserap ke dalam tatapan. Belakangan Boddhidharma diracun oleh muridnya. Mayatnya dimasukkan ke dalam peti. Tapi di dekat perbatasan menuju Himalaya ada seorang prajurit yang mengenalinya sebagai Guru melihat ia berjalan sendiri dengan menggunakan sandal hanya sebelah. Ia hendak ke Himalaya. Bodhidharma meminta prajurit ini untuk pergi memberitahu para muridnya supaya membuka peti matinya. Prajurit itu pun pergi memberi tahu para murid dan kemudian mereka membongkar peti itu dan hanya menemukan sebelah sandal.

Di sebuah pura di Karangsem, Bali, dikatakan ada seorang pertapa yang moksha di sana. Kemudian beliau dibuatkan pratima (arca), dengan mata melotot dan menggenggam tah (mirip sabit tapi lebih besar). Saya menterjemahkan arca itu sebagai pesan seperti praktek Bodhidharma. Dan kenapa arit besar itu? untuk apa seorang pertapa membawa senjata tah? Ini seperti Bodhisattva Manjusri yg membawa pedang. Ketika menatap tentu kadang pikiran muncul dan mengganggu kejernihan. Tah itu digunakan untuk menebas pikiran itu. Tah itu bukanlah tah benda, tapi tah ketajaman dan kestabilan perhatian. Bisa saja pertapa itu membayangkan dirinya menggenggam tah itu kemudian menebas pikiran yang muncul dan ia kembali terserap dengan jernih ke dalam tatapan menyempurnakan samadhinya. Sepertinya begitu.

Bodhidharma saja terus berlatih. Kalau kita pikir kita tidak perlu berlatih, renungkanlah lagi. Ketika retreat Chan/Zen, pembimbing saya mengatakan kurang lebih begini; “bahkan jika kamu mengetahui keadaan yang disebut yang tertinggi itu tapi jika perhatianmu lemah kamu tidak akan bisa tetap tinggal di situ.” Oleh karenanya penting dan sangat lah penting latihan kita. Kuatkan tekad untuk berlatih. Jangan kebayakan berakrobat dengan konsep.

Di ajaran Buddha, tekad untuk berlatih dapat dikuatkan dengan merenungkan penderitaan karena kelahiran kembali di alam samsara. Di Tantrayana, bukan hanya merenungkan kelahiran kita di alam samsara tapi juga kelahiran ibu kita di berbagai alam samsara. Ada banyak ibu kita dari kehidupan masa lalu yang tak berhingga jumlahnya sedang menderita di alam hantu, alam binatang, alam neraka. Salah satu kutipan berbunyi begini “Mengapa malas, lengah dan abai semetara ibumu dari banyak kehidupan yang kebaikannya belum sempat engkau balas sedang menderita di berbagai alam samsara?”

Oleh karenanya, demi kebaikan semua makhluk, demi pembebasan sebanyak mungkin makluk yang pernah menjadi orang tua kita dan anak kita berlatihlah dengan tekun. Jangan lengah, jangan abai, jangan malas.

Dari status facebook @gedeagustapa 10 agustus 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *