Kita Tidak Baik-Baik Saja
Ketika melihat babi, atau anak babi, ajing atau anak anjing, atau binatang lainnya, jarang kita terpikir siapa yg lahir ini ya. Atau ketika melihat hantu, boro-boro mau nanya udah ketakutan duluan. Dengar mereka menangis saja kita sudah ketakutan. Padahal bisa saja dia adalah sanak familiki kita, atau tetangga, atau orang yang tinggal di lingkungan kita. Tapi karena takut kita menghindar.
Kita tidak pernah berfikir bahwa kita pun bisa seperti mereka, mengambil wujud seperti mereka, menderita seperti mereka. Seolah-olah kita ini baik-baik saja bahwa kita akan lahir menjadi dewa di surga atau jadi manusia yang beruntung atau lenyap ke kekosongan. Sama seperti ketika ada orang yang mati, seolah-olah kematian tidak akan pernah terjadi pada kita, kematian selalu terjadi pada orang lain yang bukan kita. Begitu juga dengan babi, anjing, kodok, hantu, pasti kita nggak akan lahir menjadi salah satunya. Padahal tidak begitu. Kita pun bisa seperti itu.
Mudah sekali terpleset dan mengambil wujud ke alam yang lebih rendah dan menderita di sana dalam jangka waktu yang lama.
Binatang susah diajak komunikasi tapi hantu kadang bisa ditanyai. Siapa namanya, kenapa mereka meninggal, kapan mereka meninggal, sudah brp lama mereka meninggal, di mana mereka tinggal waktu jadi manusia, di mana mereka tinggal sekarang, nama keluarganya sewaktu masih jadi manusia siapa?
Mengetahui ini, akan menguatkan latihan kita supaya tidak terpleset ke alam bawah. Latihan-latihan kita harus mampu mencegah kita dari kelahiran ke alam bawah, dan tentu saja membawa pada pembebasan dari berbagai penderitaan di enam alam samsara. Test terbesar dari latihan kita adalah momen kematian.
Waspadalah, dan terus berlatih. Jika belum bisa mencapai pembebasan setidaknya jangan lahir di alam yg lebih rendah dengan penderitaan yang begitu menyiksa.
Berlindung pada Dharma, pada Buddha, dan pada para Guru yang telah mencapai pencerahan.
Dari status facebook @gedeagustapa 16 juni 2020