Kematian yang Ideal & Kendi yang Pecah
Kematian yang ideal di antara yang paling ideal tentu moksha hilang lenyap sempurna tanpa sisa. Pencapaian tubuh cahaya pelangi, Paramamoksah.
Kematian yang tidak ideal adalah kematian di dalam ilusi, kematian yang tidak melihat langsung dan berdiam dengan kokoh dan mantap dalam realita tertinggi. Kematian yang tidak ideal adalah kematian yang terjebak pada apa yang tampak oleh keenam indera. kematian yang tidak ideal adalah kematian yang tidak menyadari tak terpisahkannya kekosongan dan berbagai berwujudan yang tampak oleh keenam indera.
Selama belum terjaga sepenuhnya, belum kokoh dalam keterjagaannya, masih terjebak dan hanyut oleh berbagai tampakan-tampakan (appearances) yang ditangkap oleh keenam indera, ini adalah kematian yang tidak ideal. Sebab dengan begitu ia akan terus mengembara di berbagai alam penderitaan.
Kematian adalah hal yang alamiah. Seperti kendi yang pecah, ruang kosong pada kendi tidak kemana-mana. padahal untuk bisa disebut kendi harus lah ada ruang kosongnya, jika tidak ada maka tidak dapat menampung air. Kesalahan kita adalah tidak melihat dengan jelas dan mengira yang disebut kendi hanyalah bagian padatnya saja.
Itu kenapa dalam prosesi ngaben di Bali, ada bagian dimana kendi atau periuk tanah liat dipecahkan, burung dalam sangakar di lepaskan. Memecahkan kendi juga tradisi di Jawa dalam meresmikan hal-hal baru. Ini adalah kebenaran tertinggi yang disampaikan, ditunjukkan. Ruang kosongnya tidak kemana-mana, dari dulu tidak pernah kemana-mana, dan tidak akan pernah kemana-mana, tidak pernah terpisah, selalu satu dan sama dengan seluruh ruang di alam semesta ini, tidak pernah bergerak, sekaligus menampung segala yang ada di seluruh semesta. Tapi karena mata kita teralihkan pada dinding kendi, kita gagal menyadari bahwa ruang kosong pada kendi adalah yang membuat ia dapat disebut kendi.
Dari status facebook @gedeagustapa 23 agustus 2019