Karma Bersama Suatu Bangsa (perlu edit)
Walaupun Tibet penuh dengan para Mahasidha dan Guru spiritual, tapi itu tidak dapat menyelamatkan Tibet dari serangan dan pencaplokan oleh China hingga para Guru Tibet mengungsi ke India, Nepal, dan Bhutan. Banyak bhiksu dan pertapa yang disiksa, dipenjarakan dan dibunuh. Ini sudah karma bagi orang-orang Tibet.
Walaupun Sang Buddha Gautama sebisa mungkin berusaha menyelamatkan suku sakya suku beliau dari pembantaian tapi akhirnya suku sakya habis terbantai. Ini sudah karma bagi suku sakya, suku dari pangeran Sidharta Gautama. Buddha Gautama juga disebut Buddha Sakyamuni. Sakyamuni artinya orang suci dari suku sakya. Gautama adalah nama keluarga beliau. Beberapa sumber mengatakan bahwa beliau masih keturunan dari Rshi zaman dulu Rshi Gautama salah satu Rshi yang juga sangat dihormati oleh peradaban Hindu.
Suku Yadawa, suku dari Sri Krishna, dan juga kerajaan Dwaraka yang mana Sri Krishna adalah rajanya, juga harus berakhir tenggelam ke dasar laut. Ini adalah karma dari suku Yadawa.
Begitulah, jika waktunya sudah tiba, buah dari karma sudah matang, beberapa karma berat yang kuat tidak dapat dirubah bahkan oleh para Buddha dan Mahasidha sekalipun.
Memang, di realita tertinggi semuanya kosong, sunyata, tidak ada apa-apa. Tetapi di realita relatif yang menyangkut hal-hal fisik, hal-hal materi, semua di atur oleh karmaphala (tindakan dan buah) dan Pratitya Samupada (sebab dan kondisi yang saling bergantungan).
Sekarang umat manusia sedang menghadapi situasi sulit. Tentu kita mengusahakan yang terbaik. Tapi terkadang karma tidak bisa dirubah. Itu kenapa para Guru selalu menekankan lakukan perbuatan baik, hindari perbuatan buruk.
Hal-hal luar apa pun itu yang tidak bisa ditolak, yang tidak bisa lagi dirubah, biarkan saja, terima. Di dalam, tetaplah kosong. Berdiam dengan kokoh di keadaan yang tak tersentuh oleh apa pun, yang tak tersentuh oleh kelahiran dan kematian.
Dari status facebook @gedeagustapa 22 maret 2020