Jiwa Yang Bebas; Tidak Melekat pada Kekayaan & Kemiskinan.

Cerita ini diceritakan oleh Osho.

Suatu hari ada seorang raja sedang berjalan-jalan dengan menunggang kuda hingga ke pinggir desa. Ia melihat seorang pertapa telanjang duduk dengan santai di bawah pohon. Raja begitu terpesona dengan aura tenang dan damai dari pertapa itu. Raja terpikir untuk menjadikan pertapa ini sebagai Guru di Istana, menjadi penasehat spiritualnya, mengajari istrin dan selir dan orang-orangnya tentang spiritualitas.

Raja turun dari kudanya, berjalan mendekati pertapa, memberi salam, memberi hormat. Raja memohon agar pertapa ini mau ke istana. Ia memohon tiga kali. Adalah kebiasaan memohon kepada pertapa sebayak 3 kali. Karena bisa saja permohonan yang pertama dan kedua dibuat dengan tergesa-gesa, tanpa pertimbangan, atau hanya ikut-ikutan saja.

Pertapa mengiyakan. Raja memberikan jubah beliau kepada pertapa, dan juga kuda beliau sebagai rasa hormat. Pertapa telanjang itu ke Istana dengan jubah dan kuda raja.

Di istana, pertapa ini tidak terlihat seperti pertapa. Ia menikmati makanan yang mewah, busana yang mewah, tari-tarian, anggur dan berbagai kemewahan dan kenikmatan yang disediakan di istana. Setiap hari selama berbulan-bulan, pertapa ini sama sekali tida terlihat seperti pertapa. Raja menjadi curiga, jangan-jangan pertapa ini penipu. “Mungkin dia sama sekali bukan pertapa.” Begitu pikir sang Raja.

Akhirnya Raja memberanikan diri bertanya pada pertapa. “Guru, anda sama sekali tidak terlihat seperti pertapa. Anda menikmati makanan, anggur, tari-tarian, dan busana yang mewah. Jika begini, di mana letak perbedaan antara Guru dan saya? Seperti tidak ada bedanya.” Begitu Raja berkata dengan maksud menyelidiki dan ada rasa ketidakpercayaan.

Pertapa itu tersenyum pada raja. Ia tau raja ini curiga. Pertapa itu berkata kepada raja; “Raja, jika ingin tau bedanya antara aku dan engkau, ambillah kudamu, akan aku tunjukkan.” Raja dan pertapa sama-sama menggunakan jubah mewah berlapis emas, mereka berkuda hingga pinggir desa, hingga di perbatasan dengan kerajaan lain. Mereka berhenti di perbatasan. Para prajurit penjaga perbatasan dari dua kerajaan berjaga di sana.

Pertapa dan raja turun dari kuda. Pertapa menatap raja dengan tersenyum dan berkata “Raja, di sini bedanya antara saya dan anda.” Pertapa melepas jubah dan pakaiannya, dan kembali telanjang, lalu menyebrang ke kerajaan lain dengan bebas tanpa menoleh kebelakang. Ia melangkah pergi. Bebas.

Raja hanya bisa melongo. Ia tidak dapat melakukan itu. Ia tidak dapat menyebrag begitu saja ke kerajaan lain.

Begitulah seorang pertapa. Tidak melekat pada kekayaan, juga tidak melekat pada kemiskinan.

Dari status facebook @gedeagustapa 29 desember 2019

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *