Inner Dissatisfaction
Ketidakpuasan adalah penyebab seluruh kekacauan dalam hidup manusia baik di level individu mau pun di dalam masyarakat. Ketidakpuasan ini disebut “dukha” dalam sanksrit dan pali.
Setiap orang tidak puas, tidak menemukan kepuasan, merasa tidak terpenuhi, tidak tercukupi, ada sesuatu yang kurang. Hal ini lah yang membuat manusia terus bergerak mencari. Dan arah pencarian yang paling mudah adalah ke luar dirinya, ke hubungan, seks, pengetahuan, ke politik, dll. Dan dalam gerakan mencarinya itu ia bertubrukan dan berbenturan satu sama lain, bergesekan kepentingan yang satu dengan yang lain. Dan konflik.
Seluruh perjuangan manusia, pergulatannya, seluruh usahanya, sekuruh ambisinya, seluruh ekspansinya,adalah untuk mencari kepuasan, rasa terpenuhi, rasa tercukupi. Sayangnya, hal-hal luar selalu memberi ketidakpuasan. Dan melelahkan. Lalu mati kemudian lahir lagi mengulang pergulatan yang sama. Terus berputar-putar mengulang hal yang sama, terus menerus. Ini disebut samsara, sansara, sengsara. Samsara dukha; ketidakpuasan yang terus berlanjut berulang-ulang, berputar-putar pada ketidak bahagiaan, di banyak kehidupan, berkalpa-kalpa lamanya.
Inti dari keberadaan manusia, hakikat dirinya, adalah kebahagiaan, rasa berkecukupan, rasa terpenuhi. Jika saja manusia memutar perhatiannya ke dalam dirinya dan ia menyadari ruang kosong kesadaran yang tak terpisahkan dari kebahagiaan, ruang kosong kesadaran yang tak terpisahkan dari rasa berkecukupan, rasa terpenuhi, maka banyak konflik yang dapat dilenyapkan dari hidup manusia. Tapi hal ini terlalu sederhana untuk dilakukan. Manusia menyukai hal-hal yang rumit. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal-hal yang sederhana. Akhirnya keruwetan, kekacauan dan konflik menjadi mendarah daging dalam hidup manusia.
Dari status facebook @gedeagustapa 2 oktober 2019