Ingat 4 3 5 8

Bagi siapa pun yang ingin mempelajari Dharma menggunakan anak tangga yang diajarkan oleh sang Buddha, perlu kiranya mengetahui dan memahami 4 3 5 8 hal ini sebagai anak tangga, sebagai kerangka, sebagai panduan. Seluruh ajaran dan seluruh metode yang diajarkan sang Buddha dibangun di atas pondasi 4 3 5 8 ini. Sekarang banyak orang dari berbagai latar belakang agama tertarik untuk mempelajari ajaran sang Buddha dan bermeditasi, semoga ini bisa membantu.

Sang Buddha tidak mengatakan hidup adalah penderitaan. Jika hidup adalah penderitaan, maka usaha apa pun untuk mengakhirinya tidak akan berguna. Oleh karenanya mengatakan hidup adalah penderitaan bertentangan dengan empat kebenaran mulia. Akhir dari penderitaan adalah kedamaian, kebahagiaan, kasih sayang. Beliau mengatakan ada penderitaan di dalam hidup, ada penyebabnya, bisa diakhiri, dan ada caranya. Pernyataan ini disebut pernyataan empat kebenaran mulia, Catur Arya Satya:

1. Ada Penderitaan

2. Ada penyebab penderitaan

3. Ada akhir dari penderitaan

4. Ada cara untuk mengakhiri penderitaan.

Lahir, lapar, menua, sakit, kepanasan, kedinginan, tersiksa oleh ketidak seimbangan elemen, lahir cacat, lahir di tempat yg berkecamuk perang, wabah, mati, berpisah dari yang dicintai, bersama dengan yang tidak disenangi, tidak mendapatkan apa yang diinginkan ini adalah penderitaan yg dapat di alami selagi menjadi manusia. Lahir menjadi hantu kelaparan, gentayangan, lahir di alam neraka, lahir menjadi binatang, ini adalah penderitaan-penderitaan yang dapat di alami setelah mati. Kabar baiknya, semua penderitaan ini dapat diakhiri, sebabnya dapat dihentikan, dan ada cara untuk mengakhirinya.

Penyebab penderitaan adalah ketidah tahuan (avidya) disebut juga kebingungan, tidak mampu melihat dengan jelas (moha). Dari ketidak tahuan muncul berbagai kotoran bathin yang menyebabkan penderitaan. Apa yang tidak diketahui, apa yang tidak dilihat dengan jelas? Ada tiga karakter yang tidak saja perlu untuk diketahui tapi juga direaliasi. Ketiga hal itu disebut tiga corak, atau tiga karakteristik, tiga ciri, atau tiga sifat dari kehidupan, tri laksana:

1. Segala sesuatu yang terbentuk karena komponen-komponen adalah tidak kekal. (Sarwa samskara anica)

2. Segala sesuatu yang terbentuk karena komponen-komponen jika digenggam maka menyebabkan penderitaan. (Sarwa Samskara Dukha)

3. Segala sesuatu yang terbentuk karena komponen-komponen adalah tanpa diri, tanpa inti, tanpa entintas yang solid, tanpa hakikat atas keberadaanya sendiri. (Sarwa samskara anatma)

Ketiganya itu sering disingkat Anica-Dukha-Anatma. Ini harus diketahui, diingat, dilihat, diinvestigasi, dan direalisasi.

Apa komponen-komponen yang membentuk formasi itu? Ada yang disebut Panca Skhanda, lima kelompok komponen:

1. Rupa skhanda adalah Kelompok materi/wujud: unsur padat/tanah (pertiwi), unsur dingin/air (apah), unsur panas/api (teja), unsur gerakan/angin (vayu) dan unsur ruang (akhasa). Dari ke lima unsur utama ini menghasilkan unsur turunan seperti jantan, betina, landasan indera, sensasi, energi, dll sehingga total kelompok materi ada 28.

2. Vedana Skhanda adalah kelompok perasaan. Ada perasaan nyaman (sukha), tidak nyaman (dukha), dan netral (upeksha).

3. Samnja Skhanda adalah kelompok persepsi pikiran.

4. Samskara Skhanda adalah kelompok aktivitas formasi mental ada 51 jumlahnya.

5. Vijnana skhanda adalah kelompok komponen kesadaran. Ada kelompok kesadaran indera dan kesadaran pikiran. Beberapa ada yg berpendapat bahwa hanya ada kesadaran pikiran saja (citta vijnana) dan indera-indera adalah gerbang kesadaran untuk menerima stimulus objek. Ada kesadaran penglihatan, pendengaran, kesadaran penciuman, kesadaran pengecap, kesadaran perasa di seluruh tubuh. Oleh karenanya disebut kelompok kesadaran.

Kelima kelompok komponen itu adalah keseluruhan pengalaman dan keseluruhan fenomena yang kita alami. Dan kelimanya itu adalah tanpa diri, anatma, atau dalam bahasa Pali adalah anata. Di sutra ajaran Mahayana yang berjudul Prajna Paramita Hridaya Sutra ada dijelaskan:

materi/wujud adalah kosong, kekosongan adalah materi, materi tidak berbeda dengan kekosongan, kekosongan tidak berbeda dari materi, apa pun materi itu adalah kosong, kekosongan adalah segala materi. Begitu juga dengan perasaan, persepsi pikiran, formasi mental dan kesadaran.

Semua dharma karateristiknya adalah kekosongan.

rūpaṃ śūnyatā śūnyataiva rūpaṃ; rūpān na pṛthak śūnyatā śunyatāyā na pṛthag rūpaṃ; yad rūpaṃ sā śūnyatā; ya śūnyatā tad rūpaṃ. evam eva vedanā saṃjñā saṃskāra vijñānaṃ.

Sarva Dharma Sunyata Laksana

Cara untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan sang Buddha memberikan jalan yang bertahap, terintegrasi, dan yang paling aman dari semua jalan. Jalan ini disebut Jalan Mulia Beruas Delapan (Asta Arya Marga), di kedelapannya ini sang Buddha menekankan pada kata “samyak/samma” artinya yang benar. “Yang benar” artinya yang mendukung, yang mengarah, pada pencapaian pembebasan dari semua penderitaan:

1. Samyak Dristi (Cara pandang pada kehidupan yang benar: Anica-Dukha-Anatma)

2. Samyak Samkalpa (Pikiran yang benar: tanpa niat jahat di pikiran)

3. Samyak Vaca (Ucapan/perkataan yang benar: tanpa niat jahat pada ucapan)

4. Samyak Karman (Tindakan yang benar: tanpa niat jahat dalam tindakan)

5. Samyak Ajivana (Penghidupan/penghasilan yang benar)

6. Samyak Vyayama (Daya upaya yang benar: konsisten, stabil, bersemangat, bertekad)

7. Samyak smerti (Perhatian yang benar. seimbang antara relaksasi dan perhatian, tidak terlalu tegang, tidak terlalu santai)

8. Samyak samadhi (Samadhi yang benar).

Demikanlah, sharing singkat ini. Semoga dapat membantu dalam perjalanan spiritualnya. Dan jangan lupa berlatih.

4 Kebenaran Mulia

3 Karakteristik

5 Kelompok Komponen

8 Ruas Jalan Mulia untuk Mengakhiri Penderitaan

Dari status facebook @gedeagustapa 22 april 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *