Buddha Menghadapi Kesulitan
Ketika kita membaca riwayat hidup sang Buddha dapat kita ketahui bahwa masyarakat yang ada pada saat itu juga tidaklah tertib dan beradab banget. Mungkin masih lebih bagus masyarakat sekarang. Pembunuhan, pembantaian, intrik politik di antara keluarga kerajaan adalah hal yang biasa terjadi, masyarakat berperang demi merebutkan air sungai, sistem kasta yang kaku dan kejam, bahkan pembantaian suku sakya pun terjadi. Permusuhan di kalangan kelompok brahmana dan pertapa juga terjadi. Usaha pembunuhan terhadap sang Buddha pun berkali-kali.
Penolakan terhadap ajaran Dharma yang diajarkan sang Buddha juga terjadi. Walau murid-murid terbaik sang Buddha berasal dari golongan brahmana tapi sebagian kaum brahmana merasa takut dominasi dan budaya mereka tergusur. Sebagian pertapa telanjang takut kehilangan umat yang menyokong mereka. Mereka yang memegang pandangan yang salah yang berusaha menyesatkan murid-murid sang Buddha juga banyak.
Tapi Buddha adalah Buddha. Ia dengan welas asih membimbing makhluk-makluk untuk tidak terjebak pada pandangan salah dan segera terbebaskan dari penderitaan di alam samsara. Buddha melihat bagaimana makhluk dengan pandangan salah mengembara tanpa henti di alam-alam penderitaan. Oleh karenanya dengan welas asih dan tanpa pernah menyerah hingga akhir hayatnya Ia menunjukkan penderitaan, menunjukkan penyebab penderitaan, menunjukkan akhir dari penderitaan dan menunjukkan cara untuk mengakhiri penderitaan. Hal-hal selain ini dan yang bersifat spekulasi Buddha tidak tertarik untuk membahasnya. Tidak bermanfaat, tidak membawa pembebasan dari penderitaan di enam alam samsara.
Tapi kita cenderung menyukai spekulasi. Karena dengan spekulasi kita menghindari hal-hal yang harus dikerjakan, menghindari mengambil tanggung jawab dan melatih bathin kita. Karena lebih berat untuk melatih bathin kita. Dan dengan spekulasi akan terlihat keren, terlihat wah. Ajaran-ajaran sang Buddha jauh dari spekulasi. Beliau selalu ke akar permasalahan dan solusinya. Metode yg beliau ajarkan langsung dapat dinikmati hasilnya. Bukan sekedar filosofi, bukan juga filosofi yang dibuat-buat di sekeliling tradisi.
Sulit ajaran Buddha itu. Sulit bukan karena rumit, tapi karena sederhana dan langsung ke akar permasalahan sementara kemelekatan kita pada kesenangan duniawi, pada konsep, pada ritual, pada tradisi, pada filosofi, pada norma sosial begitu kuat dan mengakar.
Dari status facebook @gedeagustapa 30 april 2020