Bhagavad Gita & Patanjali Yoga Sutra

Jika harus memilih antara kedua teks itu, pilihlah Patanjali Yoga Sutra. Kitab Bhagavad Gita mudah sekali disalah artikan dan diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan seseorang. Para politisi Hindu mudah sekali mengutip Bhagavad Gita untuk kepentingan mereka. Tapi tidak akan pernah ada politisi yang mengutip Patanjali Yoga Sutra. Sebab kitab ini adalah kitab teknis. Bahasanya seperti bahasa matematika yang penuh rumus. Rumus mengenai pikiran, mekanisme pikiran, dan segala potensi yang dimiliki oleh pikiran.

Di antara kitab-kitab Hindu atau yang diklaim milik orang Hindu, Patanjali Yoga Sutra adalah kitab yang saya baca berkali-kali dan dari banyak terjemahan. Lebih dari sepuluh kali. Dan masih terus akan saya baca lagi-dan lagi dan dari berbagai penterjemah. Dan tentu saja dipraktekkan. Saya bandingkan satu sama lain. Perbedaannya hanya sedikit. Tidak bisa berbeda banyak. Itu kitab teknis. Tentu tidak populer, sebab tidak bisa dikutip untuk mendukung kepentingan kita. Para politisi dan pebisnis umat tidak akan menyukai itu.

Saya belajar Bhagavad Gita di asram Hare Krishna di Jogja sebelum saya berkenalan dengan latihan meditasi dengan intense dan terstruktur. Orang yang membaca Bhagavad Gita tanpa pernah mengalami nirbija samadhi akan berbeda interpretasinya dengan yang sudah mencicipi nirbija samadhi. Bedanya bumi dan langit.

Perlu diingat bahwa Bhagavad Gita adalah percakapan pribadi antara Sri Krishna dengan Arjuna. Sri Krishna adalah manusia yang tercerahkan, yang sudah menyadari kesatuan dengan seluruh ruang dan seluruh semesta. Arjuna adalah seorang pangeran yang terdidik dalam berbagai sastra, sangat hebat dalam memanah, dan juga seorang pertapa. Sangat hebat memanah artinya kestabilan dari perhatiannya sangatlah kuat. Ia juga diceritakan bertemu Siwa dalam pertapaannya.

Di medan perang Kurusetra Arjuna gagal mengintegrasikan pengalaman meditasinya dengan fenomena kehidupan yang ia hadapi. Memang pada saat itu adalah kondisi yang sulit. Ia melekat pada keluarganya, ia gagal melihat lebih dalam dari apa yang tampak oleh panca indera, ia gagal melihat lebih dalam dari hubungan-hubungan darah dengan kakeknya, pamannya, sepupunya, dan juga kedekatannya dengan guru-gurunya seperti Rsi Drona dan Kripacharya. Di keadaan itu Arjuna bingung, ragu-ragu pada realisasi yang sebelumnya sudah ia alami ketika bertapa di gunung Indrakila. Di keadaan itu Arjuna memohon pada Sri Krishna; “hapuskan keragu-raguanku oh Krishna?”

Keragu-raguan adalah jebakan terakhir para praktisi. Ragu akan realisasinya. Ragu pada integrasi antara pengalaman dengan fenomena yang ia hadapi. Arjuna bukannya tidak memiliki realisasi dan tidak mengetahui Dharma, tapi ia ragu. Kondisinya memang rumit. Di sini lah pentingnya sahabat spiritual atau seorang Guru untuk menebas keragu-raguan dan menunjukkan kesejatian segala sesuatu.

Saya berharap kitab Patanjali Yoga Sutra akan lebih populer dan lebih banyak beredar dari Bhagavad Gita, khususnya di Indonesia. Dan tentu juga berharap lebih banyak orang yang mempraktekkannya dan mengalami nirbija samadhi sebelum mereka membaca dan mendalami Bhagavad Gita.

Dari status facebook @gedeagustapa 12 Pebruari 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *