Badai Pasti Datang
Badai pasti akan datang dalam hidup setiap orang.
Perpisahan dengan yang kita cintai dan sayangi adalah pasti. Hidup ini sangat rapuh. Perpisahan dan Kematian berjarak hanya sejengkal dari kita. Ribuan penyebab dapat datang setiap saat.
Anak, istri, suami, ayah, ibu, kekasih, sahabat, diri kita sendiri dapat mati setiap saat oleh berbagai penyebab yang seringkali tak terduga. Kegembiraan dan suka cita bersama mereka hanya sesaat. Layaknya embun pagi diterpa panas sinar mentari, menguap begitu saja entah kemana. Bukan berarti harus meninggalkan mereka tetapi betapa palsunya kebahagiaan dari mereka harus disadari, betapa tidak kekalnya keberadaan mereka dan keberadaan kita harus disadari.
Kehidupan manusia adalah sangat beruntung. Apalagi hidup di zaman sekarang ini dimana makanan berlimpah, ajaran berlimpah, Guru mudah dijumpai. Berlindunglah pada Dharma yang tertinggi, pada realita yang tertinggi. Milikilah bhakti yang kuat pada Guru. Sehingga realisasi mudah dicapai.
Jangan menyerah, teruslah berjuang. Sampai keadaan di dalam diri yang tanpa kelahiran dan tanpa kematian disadari. Lalu tinggallah di sana dengan kokoh, dengan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan, dengan tanpa keragu-raguan. Istirahatlah di keadaan itu dengan tenang dan damai, keadaan yang tak terlukai oleh senjata apa pun, tak terbakar oleh api, tak terbasahi oleh air, tak terkeringkan oleh angin. Istirahatlah dan tinggallah di keadaan itu.
“Ini bukan pertama kalinya engkau berpisah dengan yang dicintai. Banyaknya air matamu karena menangisi perpisahan dengan yang dicintai di seluruh kelahiranmu adalah jauh lebih banyak dari air di seluruh samudera ini.” Begitulah sang Buddha mengatakan.
Terombang-ambing di alam samsara, tidak mengetahui keadaan yang melampaui kelahiran dan kematian, terus menerus berpindah dari penderitaan yang satu ke penderitaan yang lain. Menyangka sumber penderitaan sebagai sumber kebahagiaan. Mati-matian menggenggam yang terlihat nyata padahal menguap begitu saja entah kemana.
Bangun lah bangun, sadar lah sadar, terjaga terjaga. Sudah terlalu lama tertidur, ribuan kalpa sudah berlalu. Sudah waktunya bangun. Berbhaktiklah kepada Guru, silsilah dan ajaran. Berlatihlah dengan tekun dan jangan menyerah hingga keadaan yang melampaui kelahiran dan kematian disadari.
Jangan terlena jangan terbuai, sadari ketidak kekalan segala sesuatu yang tampak oleh ke enam indera. Bersahabatlah dengan yang bijaksana yang menunjukkan penderitaan dunia, yang menunjukkan penyebab penderitaan dunia, yang menunjukkan akhir dari penderitaan dunia dan cara mengakhirinya.
Bangun lah bangun, terjaga lah terjaga. Kebebasan tinggal selangkah lagi.
Dari status facebook @gedeagustapa 10 september 2019