Kekosongan & Kesatuan; Satu Paket Ajaran
Karma, Reinkarnasi, Alam-alam samsara, meditasi, kekosongan, keBuddhaan adalah satu paket ajaran yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keberadaan yang satu akan membawa pada yang lainnya. Tidak mungkin menerima yang satu tapi menolak yang lainnya.
Kekosongan dan kesatuan pun juga tidak bisa dipisahkan. Sebab tidak adanya diri di sini, tidak adanya diri pada individu lain, dan tidak adanya diri pada setiap fenomena berarti bahwa segala sesuatu ini adalah satu kesatuan yang utuh. Sebagaimana ombak tidak benar-benar ada, dan setiap ombak adalah tanpa diri dan kosong maka seluruh ombak adalah satu samudera. Ia yang telah terjaga bahwa ia bukanlah ombak melainkan samudera disebut Buddha. Guru yang telah menyadari ini adalah Buddha. Karenanya tidak berbeda Guru dan Buddha sebab ia adalah samudera yang sama. Kita pun adalah samudera yang sama, hanya saja kita belum melihat realita ini dan masih terbawa mimpi tentang adanya diri.
Ketika ada persepsi tentang diri, maka karma ada. Adanya karma maka renkarnasi ada. Reinkarnasi berarti mengambil wujud di enam alam. Mengambil wujud berarti mengalami penuaan, sakit, kematian, kesedihan, duka, dan berbagai penderitaan. Yang disangka diri hanyalah formasi kelima skhanda. Yang disangka diri hanyalah lima lapisan ilusi (panca maya kosha).
Oleh karenanya untuk mengakhiri lingkaran penderitaan haruslah melihat dengan jelas ketiadaan diri itu. Jika persepsi tentang diri tidak ada maka karma tidak ada, kelahiran kembali di enam alam tidak ada, karena tidak ada kelahiran maka kematian tidak ada, sakit dan penuaan serta perpisahan dengan yang dicintai tidak ada.
Dengan ketiadaan diri pada setiap individu dan pada setiap fenomena maka seluruh keberadaan segala sesuatu ini adalah tarian fenomena dari satu Kesejatian yang sama. Tak pernah terpisah tak pernah dua.
Menyadari kekosongan dan kesatuan adalah jawaban dari segala pertanyaan spiritual. Kekotoran bathin seketika ditransformasikan. Karena untuk membenci dan marah perlu pihak lain sebagai objek. Untuk iri, benci dan angkuh perlu pihak lain sebagai pembanding.
Tidak ada diri, tidak ada diri, tidak ada diri..!!! Semua hanya tarian fenomena dari Hamparan Samudera Kesejatian yang tak berhingga.
Tidak ada diri, tidak ada diri, tidak ada diri..!!! Ingatlah ini. Renungkahlah ini. Cari tau lah ini. Katahuilah ini. Semua hanya tarian fenomena dari Hamparan Samudera Kesejatian yang tak berhingga. Walaupun belum mampu melihatnya langsung dan belum menyadarinya tapi ingatlah ini; Tidak ada diri, tidak ada diri, tidak ada diri. Wahai ombak-ombak fenomena…!!! Lihatlah bahwa engkau adalah Samudera itu sendiri. Jangan ragu hatimu, lihat lah dengan jelas dan berbahagialah. Berbahagialah.
Dari status facebook @gedeagustapa 30 april 2022