Ketika Agama Sebagai Identitas

Jeleknya agama sebagai bagian dari identitas adalah ketika seseorang menghina agama kita, maka seolah kita berhak menganiaya dan melakukan tindak kekerasan pada orang yang menghina tersebut. Lalu apa gunanya agama? Lebih baik ikut kelompok mafia aja kalau begitu.

Apa pun itu jika kita ambil atau kita genggam sebagai identitas (agama, suku, warna kulit, kelompok spiritual, organisasi, gelar kebangsawaan, gelar akademis, nama, gelar jabatan, pangkat, kebangsaan, dll) maka bisa menciptakan fanatisme berlebihan dan mengakibatkan tindak kekerasan secara individu mau pun secara berkelompok.

Secara esensi manusia adalah tanpa identitas. Label diberikan oleh masyarakat. Sejatinya manusia dan juga semua makluk adalah bersih, murni, suci, tanpa noda.

Itu kenapa di semua tradisi spiritual kita diajarkan melepaskan segala label segala identitas. Menjadi kosong, bersih, murni, tanpa label tanpa noda. Menjadi kosong adalah menjadi luas seluas ruang kosong di seluruh semesta ini. Menjadi tak berhingga. Yang kosong tak memiliki tepi tak memiliki batasan. Yang tidak kosong memiliki tepi, memiliki batasan, tidak ‘tak berhingga.’

Jika kosong, tanpa label, tanpa noda, maka tidak ada yang bisa dihina, tidak ada yg merasa terhina. Dan tidak perlu menganiaya karena merasa terhina.

Jika sesuatu ajaran, doktrin atau agama terlalu menekankan penguatan identitas, dan seolah-olah berhak menganiaya karena identitas ajaran, atau kelompoknya itu dihina, maka itu bukan agama yang sebenarnya. Tapi lebih seperti kelompok mafia atau fasis. Tinggalkan saja ajaran yang seperti itu.

Dari status facebook @gedeagustapa 20 september 2021

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *