Sujud pada Guru Paduka

Arti kata “Paduka” adalah sandal. Paduka Raja artinya sandal Raja, Paduka Bhatara artinya sandal Hyang Bhatara. Penggunaan kata “Paduka” bertujuan untuk merendah serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari telapak kaki, yaitu sandal. Memposisikan diri bahkan lebih rendah daripada kaki seseorang yang dihormati. Kita sering menggunakan kata “paduka” baik dalam bahasa Indonesia mau pun bahasa Bali.

Acharya Adi Sankara seorang Guru dari tradisi Siwa menulis syair yang indah judulnya Guru Paduka Stotram. Artinya Syair pujian pada Sendal Guru. Saya sangat suka dengan syair beliau itu. Inti dari syair beliau adalah kurang lebih begini “lagi dan lagi saya bersujud di sandal Guru mohon guru menyelamatkan saya dari penderitaan samsara.”

Saya pertama kali belajar bersujud sekitar tahun 2005 ketika saya belajar di asram Hare Krishna di Jogja. Agak kikuk juga sebab saya datang dari tradisi yang tidak ada bersujudnya apalagi pada foto manusia. Setelah dari Hare Krishna saya bergabung dengan teman-teman Sai Baba dan disitu saya juga bersujud pada foto Baba, dan juga ada foto kakinya,. dan juga ada sendalnya. Saya pertama kali bersujud pada foto Sai Baba sekitar tahun 2006. Tapi tidak pernah bertemu secara fisik. Pernah mimpi beliau sekitar kelas 4 atau kelas 5 SD dan baru ketemu dengan komunitasnya sewaktu kuliah S1. Waktu yang lumayan lama dari pertama kali bermimpi sampai bertemu dengan komunitasnya kemudian bersujud.

Pertama kali saya sujud kepada manusia secara langsung adalah ketika saya retreat meditasi. Saya bersujud pada Bhiksu pembimbing saya dari tradisi Theravada dari Myanmar. Peserta yang bukan dari umat Buddha biasanya tidak ikut bersujud, mereka hanya menundukkan kepala sekedar memberi hormat. Tapi saya memilih bersujud karena sudah terbiasa sejak di Hare Krishna dan di Sai Baba.

Selanjutnya ketika saya belajar dari tradisi Buddha Tantrayana bersujud atau bernamaskara menjadi bagian penting dari latihan dan dilakukan hingga ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan kali. Bernamaskara juga bertujuan untuk memurnikan noda-noda karma buruk.

Dari pengalaman saya itu, saya dapat mengatakan bahwa bersujud pada Guru adalah sangat-sangat penting. Sepertinya tidak akan ada pencapaian spiritual apa pun jika tidak pernah bersujud di kaki Guru. Kita takut bersujud di kaki Guru adalah karena ego kita.. “ooh ngapain saya bersujud pada manusia, pada sesama manusia”.. Tidak begitu cara berpikirnya.. Seseorang yang berpikir begitu tidak akan mencapai pencapaian spiritual apa pun. Jika begitu cara berpikirnya bahkan ketika Buddha Gautama dan ribuan Buddha lainnya ada di sebelah kita pun kita akan melewatkannya dan menganggapnya sebagai manusia biasa. Selama ada ego, ada aku, ada diri ya g kuat, tidak ada pencapaian spiritual apa pun. Letakkan kepala di kaki Guru bahkan lebih rendah dari kaki Guru adalah cara menebas ego dengan cepat.

Bersujud pada Guru jauh lebih membawa manfaat bagi yang bersujud ketimbang pada Gurunya. Apa yg di dapat Guru dari orang yang bersujud? Tidak ada. Tapi yang bersujud akan memperoleh berkah dari Guru. Ada kerendahan hati di sana, dan mereka yang suci senang melihat adanya kerendahan hati. Berkah Guru akan mengalir pada mereka yang memiliki kerendahan hati. Itu kenapa samudera menampung lebih banyak air sebab ia posisinya lebih rendah. Jangankan para Guru dan para makluk suci kita manusia biasa pun senang dengan mereka yang memiliki kerendahan hati dan rasa hormat, dan kepada mereka yang seperti itu kita cenderung ingin memberi lebih.

Jika ada yang mengejek kita bersujud pada kaki Guru kita, jangan perdulikan. Mereka yang mengejek tidak berurusan dengan Guru kita, dengan ajaran, dan dengan proses transformasi bathin kita. Abaikan. Teruslah bersujud, memberi hormat, penuh bhakti pada Guru. Bahkan jika hendak meneruskan perjalanan ke Guru lain tetaplah ingat kebaikan Guru – Guru yang sebelumnya.

Kita tidak meninggalkan Guru kita yang sebelumnya, kita hanya meneruskan perjalanan.

Sembah sujud pada semua Guru, pada semua Buddha, pada semua Arahat dan Boddhisattva.

Dari status facebook @gedeagustapa  26 Mei 2021

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 171

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *