Berdosakah Pangeran Sidharta?
“Apakah pangeran Sidharta tidak berdosa meninggalkan anak istrinya pergi bertapa mencari pencerahan?” Tanya seorang teman.
Beberapa hal yang harus dipahami mengenai Sidharta Sang Pangeran:
Pertama, dia adalah seorang pangeran, putra mahkota, yuwaraja, dari kerajaan Kapilavastu. Anak dan istrinya tidak kekurangan sandang, pangan, dan tempat tinggal. Pelayan, dayang-dayang, dan prajurit pengawalnya banyak. Ayahnya Prabu Sudhodhana masih seorang raja yang bertanggung jawab pada istana dan kerajaan. Pangeran Sidharta tidak memiliki masalah finansial dalam menanggung anak istrinya. Istrinya juga adalah putri raja kerajaan Koliya. Istrinya tidak ada masalah finansial. Pangeran Sidharta sama sekali tidak ada beban finansial. Beda dengan kebanyakan kita yang punya banyak beban finansial dan beban ini dan itu.
Yang kedua, Pangeran Sidharta adalah seorang yang terpelajar. Kapilawastu adalah salah satu kota pelajar. Banyak putra mahkota dan pangeran dari kerajaan lain juga belajar di situ. Sebagai seorang pangeran ia juga mempelajari ilmu politik, ilmu perang, pengobatan, seni, Weda dan berbagai sastra dan aliran filsafat lainnya yang ada di anak benua India ketika itu. Secara intelek Ia telah matang. Hanya saja waktu itu ia belum memiliki realisasi. Ia sudah beberapa kali meminta izin untuk pergi bertapa selama bebeberapa tahun kepada ayahnya tapi tidak diizinkan karena takut pangeran tidak kembali lagi untuk meneruskan kerajaannya dan karir politiknya. Itu kenapa ayahnya terus menerus membuat pesta dan kesenangan duniawi bahkan meminta pangeran-pangeran lain seperti Anirudha, Ananda, Dewadata untuk terus mengajaknya berpesta dan lupa akan keinginannya bertapa. Justru semua kemewahan itu makin membuatnya bosan dengan kehidupan duniawi.
Yang ketiga, Ia semakin galau melihat realita yang membuatnya terus bertanya; apa hakikat dari semua ini, apa hakikat dari penderitaan ini, bagaimana cara mengakhirnya, bagaimana cara membantu manusia terbebas dari penderitaan-penderitaan ini? Ia adalah seorang pangeran yang memiliki empati yang menyaksikan ada orang-orang menderita, sakit, menua, dan akhirnya mati. Ia adalah seorang pangeran yang menyaksikan intrik politik dari menteri-menteri ayahnya dan para pejabat istana yang berebut kekuasaan. Ia juga menyaksikan politik luar negeri yang saling ingin menguasai satu sama lain, merebutkan sumber daya, merebutkan air.
Semua hal itu membuatnya galau dan gelisah. Apa solusi dari semua ini supaya kita umat manusia dapat hidup damai sejahtera berdampingan dan saling menyayangi, dan secara ultimate; terbebas dari lingkaran samsara. Ia pergi mencari solusi, mencari jawaban atas kegelisahan dan kegalauannya menyaksikan umat manusia dan permasalahan-permasalahan kehidupan. Dan setelah tercerahkan, setelah memperoleh jawaban dan cara mengentaskan makluk dari penderitaan beliau mengajar dan membimbing para makluk untuk terbebas dari penderitaan. Sebuah pekerjaan dan pelayanan yang lebih berat dari menjadi seorang raja. Oleh karenanya, bukannya berdosa Ia justru sangat sangat berjasa bagi umat manusia dan bagi semua makhluk di semua alam. Tak berhingga, tak terukur, tak terbatas kebaikan dari seorang Buddha.
Om Muni Muni Maha Muni Sakyamuni Svaha
Om…Sarwa Buddha Namo Namah.
Dari status facebook @gedeagustapa 24 pebruari 2021