Pikiran Nyaman karena Diam

Pikiran yang terbiasa dengan sumber kebahagiaan yang lebih halus tidak akan tertarik pada kesenangan-kesenangan dari objek indera yang kasar.

Seperti itu lah para praktisi, para pertapa setelah menikmati kebahagiaan dari bhakti, dari bathin yang terlatih, dari samadhi ia tidak tertarik pada hal-hal duniawi. Tidak perlu ia memaksakan diri menghindari hal-hal duniawi. Dan juga tidak ada godaan dan tidak ada menghindari atau melawan godaan.Dengan sendirinya kesenangan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh alam samsara tak bertaring lagi.

Sebagai perumpamaan; seseorang yg biasa menggunakan pakaian berbahan kain yg kurang halus, begitu ia menggunakan pakaian dari kain yg halus maka ia akan lebih menyenangi pakaian dengan kain yg halus, sejuk dan nyaman. Ia tidak tertarik lagi pada pakaian dengan bahan yg kurang bagus. Tidak akan ia merasa tergoda oleh pakaian dengan kain yg kasar dan panas.

Suka ekagata… Begitu dalam istilah Pali. Dalam istilah sanskritnya sukha ekagrata. Ada suka atau kenyamanan (suka) ketika pikiran atau perhatian berdiam di satu objek. Orang yg tidak terlatih pikirannya berguncang kesana kemari. Ini lah menyebabkan gelisah, sedih, marah, bingung dan stress. Jika perhatian dengan benar (samma satti) diam di satu objek lebih lama dan lebih kuat maka kejernihan, kedamaian, ketenangan adalah buahnya.

Mereka yang melatih bathinnya adalah pejuang Dharma yang sesungguhnya.

Dari status facebook @gedeagustapa 3 Juni 2022

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *