Dewa Lokal
Sebagian orang salah menangkap arti dari yang disebut sebagai Dewa Lokal. Dikiranya Dewa Lokal kemudian ada Dewa Internasional. Penterjemahan ke Dewa Lokal adalah dari bahasa inggris yaitu Local Deity atau kadang Local Spirit. Orang mungkin mengira bahwa Dewa lokal adalah dewa di Bali saja, atau di Jawa saja dan Dewa-dewi dari India adalah Dewa dan Dewi Internasional. Tidak begitu maksudnya arti kata Dewa Lokal. Sekarang banyak kosakata Dharma yang kita terjemahakan malah dari bahasa inggris yang bisa membuat rancu padahal terjemahan atau kata aslinya kita sudah pergunakan sehari-hari.
Yang masuk ke dalam kategori Dewa Lokal atau Local Deity ini adalah makluk Dewa dari kelas Catur Maha Raja Kayika atau bahasa Palinya Catu Maharajika Dewa. Tapi penggunaannya tidak hanya sebatas dewa dari Catumaharajika tetapi juga Yaksa, Naga, Preta. Dewa Lokal bisa juga diartikan makluk dewa yang menempati ruang fisik yang sama dengan manusia. Dalam teks kuno catumaharajika dewa ini berada di lereng gunung Mahameru hingga ke dasar samudera bahkan di dalam bumi. Catumaharajika dewa ini dipimpin oleh empat dewa Yaitu Dhristarastra, Virudhaka, Virupaksa dan Vaisravana (Kuvera atau Kubera). Dewa-dewa yang disebut Dewa Caturmaharajika ini atau sering disebut juga Dewa Lokal bisa hidup sampai 90.000 tahun manusia atau sampai 9 juta tahun manusia.
Di atas Catumaharajika dewa ini adalah Trayatimsa dewa atau Surga dari para Dewa tawatimsa. Trayatimsa artinya 33 dewa. Walau pun penduduknya bukanlah 33 dewa. Tapi karena suatu kejadian dia dinamakan surga 33 dewa. Surga Trayatimsa ini dipimpin oleh Dewa Indra. Lokasinya ada di atas Gunung Mahameru. Surga Trayatimsa adalah surga terkahir yang penghuninya masih bisa berainggungan dengan urusan manusia. Seperti di kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana dewa-dewa bersinggungan dengan urusan manusia. Dikatakan juga bahwa surga tingkat ini lah yang berbenturan dengan alam asura atau yaksa. Sebab para yaksa masih bisa melihat dan masuk ke alam surga ini. Ukuran 1 hari di alam mereka adalah 100 tahun di alam manusia. Makluk dewa di surga Trayatimsa ini dikatakan bisa hidup sampai 40 juta tahun manusia.
Di atas dari surga Trayatimsa adalah surga Tusita. Tapi di atara surga Trayatimsa dan surga Tusita ada semacam surga transisi yang disebut Surga Yama. Dewa-dewa di surga Yama dikatakan mengambang di angkasa. Surga Tusita hanya dapat dicapai melalui meditasi berbeda dengan surga trayatimsa yang seseorang bisa lahir di sana dengan mengumpulkan karma baik. 1 hari di surga Tusita sama dengan 100 tahun surga trayatimsa. Dewa-dewa di alam tusita ke atas dikatakan sudah tidak bersinggungan lagi dengan alam manusia . Makluk-makluk di alam Dewa Tusita bisa hidup mencapai 500 – 600 juta tahun manusia. Juga dikatakan Dewa dari surga trayatimsa tidak bisa masuk atau melihat surga Tusita tetapi makluk surga Tusita bisa turun dan masuk ke surga Trayatimsa. Itu kenapa sang Buddha membabarkan Dharma tingkat tinggi di alam Dewa Trayatimsa supaya Dewa di alam itu bisa mendengar dan Dewa dari surga Tusita turun ke surga Trayatimsa untuk mendengarkan ajaran. Jika dibabarkan di surga Tusita maka Dewa dari alam surga Trayatimsa tidak bisa ikut belajar.
Ada 6 alam dewa.. Dan di atas surga para Dewa itu disebut Brahma Loka, alamnya para Brahma. Alam Brahma pun masih dibagi ke dalam beberapa tingkatan.
Manusia biasa tidak bisa melihat alam-alam dewa yang tinggi. Manusia sering berinteraksi dengan makluk Dewa yang termasuk ke dalam kelas dewa catumaharajika ini. Ini lah yang disebut Dewa Lokal. Kadang manusia bersinggungan dengan preta, dengan yaksa, dengan naga dan sebagainya. Dan… tidak semua Dewa Lokal itu baik. Ada juga yang berbahaya.
Para yogi tingkat tinggi seperti sang Buddha dan juga banyak murid beliau setelah mengembangkan kejernihan dan ketajaman bathin mampu melihat keseluruhan alam-alam itu dari alam neraka terbawah sampai ke alam Brahma tertinggi dan juga mampu melihat bagaimana makluk berpindah setelah kematian dari alam yang satu ke alam yang lain. Zaman sekarang pun masih ada yang bisa. Masih ada pertapa-pertapa dan bhiksu-bhiksu yang tekun dan mencapai ketajaman seperti itu.
Ruang kosong ini tidaklah benar-benar kosong. Ruang kosong ini hidup. Kita ini pun juga adalah ruang. Unsur tubuh kita salah satunya adalah akasa artinya ruang. Pori-pori, rongga hidung, rongga perut, saluran tenggorokan dan kerongkongan adalah ruang. Begitu juga bagian padat tubuh kita adalah ruang juga. Tak berhingga banyaknya makluk. Dan selama mereka lahir dan mengambil wujud, walau pun di alam yang tinggi dan indah, mereka pun harus mati. Ketidakkekalan berlaku dari alam neraka terbawah hingga alam brahma tertinggi. Untuk melampaui semua itu maka Dharma diajarkan oleh para Buddha dan Boddhisatwa.
Dari status facebook @gedeagustapa 1 September 2022