Diselamatkan Dewa Wisnu

Setajam-tajamnya mata binatang, perhatiannya hanya mampu melihat ke depan. Mengincar mangsa dan menyerang. Burung elang atau garuda bahkan dapat melihat dengan jelas hingga jarak 5 kilo meter. Tapi ia tidak dapat melihat yang sangat dekat dengan dirinya. Ia tidak bisa membalikkan arah perhatiannya ke sumber datangnnya perhatian. Hanya manusia yang bisa. Ini lah keutamaan terlahir sebagai manusia. Pembebasan sempurna sudah dalam genggaman tangan, jangan lah lagi sampai lepas. Jika terlahir kembali di alam bawah maka susah lah untuk memperoleh badan manusia ini lagi, susah untuk memperoleh kesempatan emas ini untuk menjadi Buddha yang sempurna.

Manusia yang arah perhatiannya hanya taunya melihat ke depan maka masih sama lah ia dengan binatang. Jika ia sudah mampu membalikkan perhatiannya maka ia berada di atas binatang, ia lebih hebat dari garuda. Keadaan itu lah yang menyelamatkan manusia dari samudera samsara. Orang Waisnawa menyebut keadaan itu sebagai Wisnu, disebut juga Narayana. Diceritakan Dewa Wisnu dari atas garuda menyelamatkan manusia yang terombang ambing di lautan samsara. Begitulah penggambarannya.

Ada instruksi yang sangat jelas dan berulang-ulang di Lontar Kekawin Dharma Sunya agar para yogi membalikkan arah perhataian dan tetap berdiam di keadaan itu, terserap sempurna hingga tidak ada lagi kekuatan ilusi yang tersisa. Diibaratkan sebagaimana induk ayam mengerami telur-telurnnya hingga menetas.

Mereka yang sudah melihat Sang Sumber Perhatian itu mengatakan bahwa dekatlah moksha itu. Kekawin Dharma Sunya juga mengatakan begitu. Dekat, sungguh dekat. Walau pun dekat tapi sulit diketahui. Jika bersungguh-sungguh dan memiliki bhakti pada Guru, mudah sungguh mudah melihat itu.

Dari status facebook @gedeagustapa 22 mei 2022

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *