Belajar Melihat
Bukan belajar melepas kemelekatan atau keterikatan. Tapi belajar melihat hakikat sejati segala sesuatu. Kita “merasa” terikat karena tidak melihat hakikat sejati segala sesuatu yg kosong dan tidak kekal. Hanya merasa. Tidak benar-benar terikat. Begitu kita melihat hakikat sejati dari segala sesuatu maka kita melihat seungguhnya tidak ada pengikat dan tidak ada yg diikat. Pengikat dan yang diikat hanya mimpi di siang bolong.
Ketika belajar melihat tubuh kita sebagai mayat, belajar melihat anak, istri, suami, kekasih dan orang yang disayangi sebagai mayat, mayat yang berantakan, dan harta benda sebagai puing-puing, bukanlah untuk menghancurkan mereka atau meninggalkan mereka. Tetapi untuk dapat hidup bersama dengan damai dan harmonis, bebas dari ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan. Ketika seluruh anggota keluarga memahami ini, mereka menjadi benar-benar satu.
Kehilangan yang dicintai, entah karena kematian, keterpisahan jarak, atau karena satu dan lain hal berpisah memanglah menyakitkan. Dan itu hal yang pasti akan terjadi. Tidak ada yang bisa menjamin orang yang kita sayangi atau diri kita akan hidup sampai minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan. Segala sesuatu bisa terjadi besok pagi, minggu depan, bulan depan, tahun depan.
Sekali lagi, merenungkan kekosongan dan ketidak kekalan bukan untuk meninggalkan mereka yang kita cintai tapi untuk mencintai dan menyayangi mereka dengan lebih baik, dengan lebih bijaksana. Setiap detik, setiap menit menjadi begitu berharga. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Dan ketika waktunya berpisah kita mengucapkan selamat jalan atau selamat tinggal yang indah. Kita sudah mencintai dan menyayangi dengan baik. Tidak ada penyesalan karena mengabaikan mereka.
Kita sering mengabaikan orang yg kita sayangi, tidak menghargai momen kebersamaan, karena kita menyepelekan mereka. Kita mengganggap masih ada hari esok, atau minggu depan, atau tahun depan.
Kita mungkin takut merenungkan kematian, ketidak kekalan, dan kekosongan. Dan menganggap itu adalah musuh cinta, musuh dari kasih sayang. Kenyataannya tidak begitu. Justru mereka yang merenungkan itu semua adalah yang paling mampu mencintai, mengasihi, menyayangi dengan ketulusan yang luar biasa, dengan tanpa menggenggam apa pun, tanpa syarat apa pun. Itu lah yang dilakukan oleh para bhiksu dan bhiksuni, para pertapa, para yogi dan yogini dan oleh siapa pun yang berlatih meditasi atau Dharma dengan mendalam.
Dari status facebook @gedeagustapa 19 agustus 2020