Di Sini Senang Di Sana Senang.

Kita harus menemukan kebahagiaan dari latihan kita. Tidak ada yang salah dari hal itu. Kebahagiaan dari pikiran yang semakin halus, dari bathin yang diarahkan kepada Dharma. Temukan kebahagiaan dari duduk bermeditasi, kebahagiaan dari menyadari nafas, kebahagiaan dari mengembangkan bhakti pada Guru dan Istadewata, dari mempratekkan mantra, kebahagiaan dari belajar dharma, kebahagiaan dari terhubung dengan komunitas berlatih (sangha).

Jangan berpikir bahwa latihan spiritual, latihan meditasi, adalah seperti penyiksaan diri, seperti latihan militer. Tidak, tidak begitu.

Hanya jika kita menemukan kebahagiaan dari meditasi, maka kita akan terus berlatih dan berlatih. Hanya jika kita menemukan kebahagiaan di dalam bhakti dan semua latihan kita, maka terus menerus kita akan mengembangkan bhakti dan latihan-latihan kita. Hanya jika kita menemukan ebahagiaan dari kebijaksanaan maka kita akan terus menumbuh kembangkan kebijaksanaan.

Berlatih meditasi, mempelajari Dharma, mengembangkan bhakti, adalah memang untuk menghindari penderitaan, untuk berbahagia. Tapi ini adalah kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan yang tidak lagi diikuti oleh penderitaan. Umumnya, kebahagiaan pasti akan diikuti penderitaan. Ini disebut kebahagiaan dualitas, suka-duka. Tapi ada suka tanpa dibarengi duka. Di Bali disebut “suka tanpa wali dukha”, kebahagiaan yg tidak lagi dibarengi penderitaan. Istilah sanksritnya adalah “anandam”. Kebahagiaan yang landasannya bukan lagi kebodohan dan ketidak tahuan, tapi kebahagiaan yang hadir karena adanya kebijaksanaan. Kebahagiaan yang merupakan pancaran alamiah dari kebijaksanaan.

Seseorang tidak dapat terus menerus berlatih jika tidak menemukan kebahagiaan di dalam latihan. Cepat atau lambat dia akan bosan dan menyerah.

Kebahagiaan ada yg kasar dan ada yang halus. Semakin halus pikiran kita, maka kebahagiaan semakin halus. Orang yang tidak berlatih mengejar kebahagiaan yang kasar. Diperlukan banyak usaha untuk itu, dan ujung-ujungnya membawa pada ketidak puasan, kekecewaan, penderitaan dan kesia-siaan. Semua mencari kebahagiaan. Ada yang mengejar yang kasar karena ketidaktahuan, ada yang mulai menikmati kebahagiaan yang halus. Di meditasi menyadari nafas kita menuju kebahagiaan yang semakin halus. Kebahagiaan dari pikiran yang tenang, dari energi yang semakin halus dan harmonis.

Orang yang latihannya bagus bahkan duduk dan menatap saja dia menemukan kebahagiaan yang mendamaikan. Kebahagiaan yang jauh lebih baik dari menaklukkan seluruh dunia. Apa yang didapat dari menaklukkan seluruh dunia? Banyak yang sudah melakukannya dari Alexander, Kubilai Khan, Akbar, Hitler, Raja-Raja di Nusantara juga melakukannya, malah banyak dari mereka yang berakhir tragis dikhianati, diracun, dan dibunuh. Itu adalah kebahagiaan yang kasar dan akhirnya membawa penderitaan.

Di awal, memang agak berat. Sebab pikiran terbiasa kasar. Selama banyak kelahiran pikiran terbiasa begitu. Menghaluskannya tentu perlu usaha lebih. Tak apa. Semakin halus pikiran akan semakin bahagia. Dan kebahagiaannya akan semakin halus.

Duduk di sini, bukan siapa-siapa, nafas masuk dan nafas keluar sewajarnya, angin berhembus, awan-awan beriringan berlalu, ruang tak berhingga, hadir dalam tatapan, kopi dan sepotong roti. Istirahat sejenak. Temukan kebahagiaan dari latihan. Dan latihan bukan lagi menjadi latihan, ia menjadi perayaan.

Semoga Damai

Dari status facebook @gedeagustapa 12 Agustus 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *