Membalas Kebaikan Orang Tua

Menurut tradisi Dharma setiap orang dari kita sudah pernah lahir sangat banyak jumlahnya, jutaan bahkan miliaran kali sebagai apa pun di ruang yang luasnya tak berhingga ini dan di waktu yang lamanya tak bertepi. Artinya, kita pernah lahir dari tak berhingga banyaknya ibu, pernah dirawat, pernah mengkonsumsi kebaikan dan dibesarkan oleh tak berhingga banyaknya ibu. Dan sangat mungkin banyak dari ibu kita saat ini sedang menderita di alam penderitaan; menjadi binatang, menjadi hantu atau setan kelaparan, di alam neraka, atau menjadi manusia yang kurang beruntung atau juga menjadi sahabat kita. Belum sempat kita membalas kebaikan mereka dan mereka terus menerus lahir di alam-alam penderitaan. Itu kenapa di ajaran Buddha, khususnya Tantrayana, ketika sehabis melakukan perbuatan baik atau berlatih dharma kita mempersembahkan buah karma baik dari latihan kita untuk semua makhluk yang pernah menjadi ibu kita yang saat ini berada di enam alam samsara.

Di semua ajaran Buddha, cara terbaik untuk membalas kebaikan ibu-ibu kita adalah membantu mereka semua mencapai pembebasan dari alam-alam penderitaan. Dan kita hanya dapat membantu membebaskan mereka semua ketika kita sudah merealisasi pembebasan. Jika tanpa realisasi maka ibaratnya seperti orang buta menuntun orang buta.

Menikah dan punya anak, memberi orang tua cucu, sama sekali bukan cara membalas kebaikan orang tua kita. Tidak berhubungan sama sekali. Itu semua sama sekali tidak membebaskan orang tua kita dari bahaya penderitaan kelahiran kembali di alam rendah. Tidak selalu orang yang lebih tua paham akan ajaran. Dan bahkan sering orang tua menjerumuskan anak-anaknya ke jurang penderitaan dan kelahiran-kelahiran yang berbahaya. Bukan berarti ajaran Buddha menentang pernikahan, hanya saja menikah bukanlah cara yang terbaik untuk membalas kebaikan orang tua kita. Agak berbeda memang di ajaran Buddha dengan ajaran-ajaran lain. Tentu kalau ajaran lain silahkan dengan cara pandang mereka sendiri.

Oleh karenanya definisi anak yang baik yang sesungguhnya adalah ia yang berusaha membebaskan dirinya dari cengkeraman bahaya penderitaan kelahiran kembali di enam alam samsara kemudian ia bertekad untuk membebaskan sebanyak mungkin makhluk yang pernah menjadi orang tuanya di banyak kehidupan. Seorang praktisi yang bertekad seperti itu di ajaran Buddha disebut sebagai yang berjalan di jalan Bodhisattwa.

Dari status facebook @gedeagustapa 8 Agustus 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *