Yang Saya Kagumi dari Hare Krishna
Walau pun berbeda landasan filosofi dalam memandang realita dengan kelompok Hare Krishna, tapi ada hal-hal yang saya kagumi dari mereka. Salah satu yang paling penting adalah latihan mereka. Mereka intense dalam latihan mereka entah mereka sendiri atau berkelompok. Dan mereka percaya diri berlatih di tempat sepi atau di keramaian dengan memegang kantong japa mala mereka, dan ucapan mengucapkan mantra dan pikiran mebayangkan Krishna. Mereka benar-benar menggunakan waktu yang mereka punya untuk berlatih. Jika tidak berlatih biasanya mereka studi text. Disiplin. Ini bagus sekali.
Kita boleh saja tidak menyukai pemikiran seseorang atau satu kelompok tertentu karena berbeda pandangan, karena landasan filosofinya atau karena pilihan politiknya yang berbeda dari kita, tapi jika ada hal baik yang bisa kita tiru tentu kita boleh mencontoh hal baiknya itu.
Jika orang Hare Krishna diminta melafalkan mantra 1 juta kali atau 10 juta kali, mereka pasti akan menyelesaikanya dalam waktu yg tidak terlalu lama.
Mantra bukanlah hal yang asing bagi orang Bali. Sebagian ada yang melatih mantra Gayatri, mantra Om nama Siwa ya, ada juga teman dari kelompok Waisnawa yang berlatih mantra Om Namo Narayana, dan juga kelompok lainnya dengan latihan mantra mereka sendiri.
Di komunitas Buddha, yang berlatih mantra biasanya dari tradisi Buddha Mahayana dan Buddha Tantrayana. Di Buddha Tantrayana latihan mantranya juga banyak sekali. Bukan hanya mantra tapi juga namaskara dan latihan visualisasi. Visualisasi istadewatanya harus jelas dan detail sambil berjapa mantra. Misalnya Istadewata Bhatara Hyang Avalokitesvara dengan mantra Om Mani Padme Hum, atau Bhatara Hyang Bajrasatva dengan Om Bajrasattva Hum, atau yang lainnya bisa sampai puluhan juta atau ratusan juta kali bahkan ada milyaran kali.
Kebanyakan dari kita menyukai teori, diskusi dan argumentasi tapi ketika berkaitan dengan praktek, dengan sadhana atau latihan, kita malas sekali. Memahami teori adalah seperti kita masuk ke sebuah kapal yang akan berlayar membawa kita ke pulau tujuan. Tapi jika kita tidak berlatih maka ibaratnya kapal itu tanpa bahan bakar. Landasan filosofis adalah arah tujuannya. Guru adalah nahkoda kapalnya.
Para Guru mengatakan; “latihan kita haruslah berhubungan dengan momen kematian.” Di momen kematian, sehebat apa pun pemahaman teori tidak dapat menyelamatkan kita. Hanya latihan-latihan kita yang menyelamatkan kita. Kita perlu bertanya pada diri kita; apakah latihan saya sudah membuat saya cukup percaya diri dalam menghadapi momen kematian? Ini perlu kita tanyakan pada diri kita supaya tidak kebanyakan teori tapi kurang berlatih.
Dari status facebook @gedeagustapa 30 juli 2020