Menyimpulkan Tanpa Menginvestigasi

Ketika saya belajar di Hare Krishna kami menganggap yang tertinggi adalah Krishna, kitab yang terbaik adalah Bhagavad Gita dan Srimad Bhagavatam tentu yang versi kami dan mantra terbaik adalah Hare Krishna Hare Rama. Kami mengatakan bahwa Siwa bukanlah yang tertinggi, tentu saja tanpa mempelajari text-text Siwa seperti Siwa Sutra, Siwa Samhita, atau Vigyana Bhairava Tantra dan ribuan text Siwa agama, nigama, dan siwa tantra lainnya.

Begitu juga kami menganggap ajaran Buddha tidak lah sebaik ajaran Waisnawa dan khususnya Waisnawa yang Hare Krishna. Kami menganggap Buddha adalah salah satu inkarnasi Wisnu dalam sepuluh avatara. Dan tentu saja tanpa membaca, mempelajari, merenungkan, menganalisa, dan menginvestigasi ke dalam text-text ajaran Buddha dari vinaya, sutta, suttra apalagi tantra yang banyak sekali jumlahnya.

Ada juga orang Bali yang mengatakan agnihotra saja cukup. Tidak perlu upacara-upacara yang lainnya. Tentu saja ini tanpa membaca berbagai lontar, berbagai text, tanpa memahami Bali dan tata spiritualnya lebih jauh. Ada juga orang Bali mengatakan ngapain sih belajar ini dan itu, sembahyang di kemulan saja cukup. Ini pun tentu saja tanpa mempelajari berbagai text-text Dharma.

Ketika saya belajar dari komunitas Buddha ada pembicara yang mengatakan bahwa orang hindu memuja Gandarva sebagai Tuhan. Gandarva adalah pemain musik surgawi. Krishna dianggapnya Gandarva karena memainkan seruling. Tentu saja ini tanpa membaca Bhagavad Gita, tanpa membaca upanishad-upanishad, tanpa membaca text-text vedanta, yoga, Siwa Tantra, Shakta, dan yang lainnya yang banyak sekali jumlahnya.

Di kalangan umat Buddha, ada yang menganggap ajaran Mahayana itu ngawur, filosofinya menyesatkan dan ambyar. Ketika ditanya apakah sudah pernah membaca, merenungkan, menganalisa, menginvestigasi, text-text Mahayana seperti Prajna Paramita hridaya Sutra, Lankavatara Sutra, Vimalakirti Nirdesa Sutra, Vajrachedika Sutra, dan ribuan text mahayana lainnya, ternyata juga tidak pernah.

Ada juga umat Buddha yang mengatakan Buddha Tantrayana itu sesat, bukan ajaran Buddha. Lalu ketika ditanya apakah pernah mempelajari Tantrayana? Ternyata tidak pernah.

Begitu juga ada umat islam dan kristen mengatakan orang hindu dan buddha menyembah patung tanpa terlebih dahulu membaca kitab-kitab kedua agama tersebut.

Kita mudah sekali menyimpulkan tanpa membaca, menganalisa, menginvestigasi dan merenungkan terlebih dahulu. Susah untuk tetap bersifat terbuka. Susah untuk mengatakan; “saya tidak tahu tradisi itu, jadi sebaiknya saya tidak membahasnya supaya tidak salah.”

Kadang kita juga bersikap politis dan bisnis. Demi kemajuan aliran kita, demi tumbuh kembanghya organisasi spiritual kita, demi memperoleh banyak umat karena umat berkaitan dengan sumber daya dan juga jumlah donasi.

Sebagi seorang murid, sebagai seorang pembelajar, ada baiknya kita bersifat terbuka dan memiliki keberanian membaca, mempelajari, merenungkan, dan menginvestigasi dari ajaran lain jika kita punya lebih banyak waktu. Sehingga kita tidak buru-buru menyimpulkan.

Dan sebagai praktisi ada baiknya tujuan kita adalah transformasi total umat manusia, bukan sekedar memperbesar sekte atau organisasi kita. Perlu memperkecil sikap kita yang cenderung sektarian. Saya rasa ini lah semangat para leluhur kita di Nusantara pada masa lalu sampai slogannya kita gunakan sekarang sebagai sebuah bangsa; Bhineka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrua. Kutipan dari kitab Sutasoma yang disusun oleh Mpu Prapanca. Text Sutasoma ini dan Mpu Prapanca sendiri adalah seorang pandita Buddha. Tapi beliau mengatakan bahwa kebenaran yang ada pada ajaran Siwa dan Buddha adalah satu. Sementara di kitab Buddha Sang Hyang Kamahayanikan, Mpu Shri Shambara menunjuk tidak saja Siwa dan Buddha tapi juga pada tradisi lainnya seperti Wesnawa dan Bhairava. Artinya, beliau mempelajari dan menginvestigasi ke dalam berbagai text-text itu sebelum menyimpulkan. Sebagai orang Bali yang mewarisi 3 tradisi Dharma di Nusantara yang belakangan kita sebut sebagai Hindu Bali, menurut saya adalah penting bagi kita untuk tidak bersikap sektarian. Dan jika punya waktu lebih tentu akan bagus sekali jika kita membaca atau mempelajari ketiganya.

Dari status facebook @gedeagustapa 28 Juli 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *