Hare Krishna Vs Hindu Bali
Sebagai yang bukan siapa-siapa, bukan tokoh, bukan guru, bukan pemimpin sekte atau ketua aliran tertentu saya menulis mengenai ini. Siapa tau tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman sesama pencari, sesama murid di tradisi Dharma, dan khususnya sesama putra-putri pulau Dewata. Dan mohon maaf kalau ada ketidak sesuaian.
Perbedaan terbesar antara Hindu Bali dengan Hare Krishna adalah Hindu Bali cenderung Advaita (non-dual) dan Hare Krishna adalah dvaita (dualistik). Ini juga yang menjadi pembeda besar antara agama-agama Dharma pada umumnya dengan agama Abrahamik. Tidak mengherankan karena apa yang disebut Hindu Bali adalah dominan unsur Siwa dan Buddha yang mana keduanya berbicara mengenai Advaita (non-dual). Walau pun tradisi Waisnawa juga ada di Bali jauh sebelum Hare Krishna datang ke Bali.
Sepanjang yang saya ketahui yang disebut Hindu Bali ini dapat hidup bersama dengan mesra dan saling memperkaya satu sama lain dengan filosofi Vedanta, Yoga, Buddha, dan semua kelompok yang memiliki pandangan non-dual (advaita). Bahkan jika kita ngobrol dengan masyarakat yang awam sekali pun di Bali, maka akan banyak terminologi-terminologi filosofis non-dual yang kita temui seperti; suwung, sunnia loka, moksha, penyatuan, nirvana, manunggal, dll.
Sekali lagi, perbedaan mendasar antara yang disebut Hindu Bali dengan kelompok Hare Krishna tidak sekedar di tampilan luar dan ritualnya saja, tapi di landasan filosofisnya. Tidak akan ada titik temu. Karena kelompok Hare Krishna menganggap wujud Tuhan yang sejati adalah Sri Krishna. Sri Krisna sebagai identitas yang solid. Dan pembebasan yang dimaksudkan dalam Hare krishna adalah hidup di Vrindavan sebagai pelayan Krishna. Ada Krishna dan ada yang bukan Krishna. Oleh karenanya ada dua pihak, ada yang menyembah dan ada yang disembah, ada aku dan ada yang lain, ada diriku dan ada diri pada yang lain.
Sedangkan di Bali Tuhan itu adalah Parama Acintya, ada juga yang menyebut Parama Sunnya, Sang Hyang Embang, Ida Sang Hyang Widhi, melampaui segala bentuk dan nama. Atau semua bentuk dan nama adalah Ia. Walau pun di Bali menggunakan berbagai bentuk perwujudan Istadewata (termasuk Wisnu), tapi orang tau bahwa secara hakikat semua perwujudan itu adalah sunyya, atau acintya. Cara pandang Advaita susah sekali untuk dicerna. dibutuhkan kecerdasan lebih dari sekedar membaca buku dan percaya pada dogma. Dibutuhkan lebih banyak usaha. Bukan karena rumit tapi karena terlalu sederhana. Sebagai contoh ketika kita melihat mangkok atau gelas yang kita lihat selalu bagian padatnya dan mengabaikan ruang kosongnya. Padahal ruang kosong pada mangkok dan gelas lah yang bisa menampung air dan benda atau makanan. Dan ruang kosong pada gelas itu satu dan tak terpisahkan dengan ruang kosong di seluruh semesta, dan ruang kosong itu memungkinkan bagian padat dari gelas itu untuk ada. Walau pun ruang kosong gelas penting bukan berarti sisi padat dari gelas tidak penting. Bagian kosong dan bagian padat sama pentingnya, bahkan yang padat adalah perwujudan dari yang kosong, tak terpisahkan. Sederhana, tapi kita melewatkannya. Sederhana, tapi sulit untuk menyadari keberadaan ruang kosong sebagai landasan atau tempat segala sesuatu untuk ada.
Saya tidak mengatakan bahwa Hare Krishna tidak memiliki manfaat dalam perjalanan spiritual seseorang, yang saya katakan hanya berbeda, khususnya dengan tradisi dan landasan filosofis yang ada di Bali. Tidak juga mengatakan bahwa yang di Bali seratus persen benar sebab tradisi Bali berusia ribuan tahun dan selama rentang waktu yang cukup lama ada banyak hal yang terjadi dalam sejarah pulau Bali. Tentu juga ada pergeseran-pergeseran entah dari ritual atau pun pemaknaan filosofisnya. Setiap tradisi yang usianya tua pasti mengalami pergeseran.
Saya sendiri pernah belajar di Hare Krishna ketika masih kuliah di Jogja. Tapi saya tidak berhenti sampai di situ, saya terus mencari tau. Ikut teman-teman di Sai Baba group, teman-teman Gandhi asram Jogja, Osho, ikut belajar yoga, membaca buku-buku Vedanta, Upanishad, membaca buku dan ikut retreat meditasi Buddha Theravada, Buddha Mahayana, dan Buddha Tantrayana.
Untuk memahami Bali, landasan filosofisnya, ritualnya, budayanya, memang diperlukan usaha yang lebih banyak kalau kita tidak mau percaya begitu saja pada ucapan “nak mula keto” (emang begitu). Perlu belajar dari beberapa tradisi, perlu waktu lebih banyak untuk mengeksplore berbagai text dan metode. Dan tentu perlu realisasi samadhi.
Belajar adalah hak Individu, hak asasi. KIta tidak dapat melarang seseorang membaca atau belajar text tertentu. Tapi sebagai seorang pelajar ada baiknya kita bersikap terbuka, mempelajari berbagai text dan tradisi, dan tidak buru-buru mengambil kesimpulan bahwa tradisi kita salah atau tradisi orang lain salah. Sepanjang yang saya alami sejauh ini; semua memiliki manfaatnya sampai level tertentu.
Dari status facebook @gedeagustapa 23 juli 2020