Landasi dengan Cara Pandang
Banyak yang langsung terjun ke meditasi Buddha seperti samatha, vipasana, atau meditasi mantra dan istadewata tanpa landasan cara pandang yang benar. Ini bisa dikarenakan tidak semua mencari kebenaran (dharma), tapi hanya sekedar mengurangi stress atau sembuh dari penyakit fisik atau bahkan untuk pengembangan diri sehingga sukses dalam karir dan bisnis dan keuangan. Tentu tak apa, itu juga baik.
Vipasana misalnya, metode yang sangat populer tidak hanya di kalangan umat Buddha tapi juga di luar kalangan umat Buddha. Banyak yg ikut meditasi vipasana malah menjadi stress atau merasa bersalah karena sering lalai atau tidak sadar atau tidak mindfull pada setiap tindakannya.
Semua meditasi sang Buddha, atau semua tekhnik meditasi yang diajarkan di agama Buddha entah itu theravada, mahayana, vajrayana tujuannya adalah untuk merealisasi ketidak adaan dirí, atau melenyapkan sepenuhnya persepsi tentang diri.
Ini saangat penting. Pernyataan kebenarannya adalah “tidak ada diri, tidak ada entitas yang disebut diri”. Dan semua metode adalah untuk menginvestigasi, menguji, membuktikan dan merealisasi tidak adanya diri. Semua panca skanda ini (Tubuh, perasaan, emosi, pikiran, kesadaran) bukanlah diri. Tentu bukan hanya diri di sini, tetapi juga pada semua yg dianggap makhluk.
Tidak ada diri (anatta/anatma) ini sangat penting. Dalam jalan mulia beruas delapan, cara pandang adalah yang pertama.
Jika metodenya salah, tapi cara pandangnya benar, maka tidak lah begitu salah, ini adalah hal kecil. Tapi jika cara pandangnya salah walau pun metodenya benar maka itu sudah pasti salah. Metode apa pun adalah seperti pedang bermata dua. Ia dapat melenyakan persepsi tentang diri atau justru menguatkan adanya persepsi tentang diri. Oleh karenanya cara pandang yang benar adalah sangat penting dalam mempraktekkan metode atau teknik.
Dari status facebook @gedeagustapa 18 Juli 2020