Realistis, Positif & Negatif
Susah untuk menjadi realistis. Susah untuk melihat situasi sebagaimana apa adanya. Untuk menjadi realistis dibutuhkan ketenangan dan kebijaksanaan, dibutuhkan diam tanpa penghakiman untuk melihat fenomena sebagaimana apa adanya sebelum merespon ke arah yang lebih baik. Jika tanpa ketenangan dan kebijaksanaan maka seseorang akan langsung dicengkram oleh ketakutan, kekhawatiran dan kepanikan ketika suatu fenomena yang diterima diterjemahkan sebagai bahaya.
Lebih gampang berpikir positif. Berpikir positif adalah menghibur diri. Sebenarnya dalam berpikir positif ada pikiran negatif yang berusaha disembunyikan, ada kekhawatiran, ada ketakutan yang mencoba ditolak. Kita tidak perlu mencoba berfikir positif jika tidak ada kenegatifan menyelinap masuk ke dalam pikiran kita. Berpikir positif artinya yang negatif sudah ada di dalam dan kita berusaha menyeimbanginya dengan yg positif. Sisi buruk berfikir positif adalah kecerobohan. Tapi sisi baiknya ada, yaitu tidak terlalu dicengkram oleh ketakutan dan kepanikan walau pun bukan berarti tidak akan diterkam oleh bahaya.
Di situasi yang gawat seperti sekarang tentu ada hal-hal yang ditutupi oleh para pemimpin pengambil kebijakan. Sebab ada lebih banyak masyarakat yang tidak bisa tetap tenang, tidak bisa realistis, tidak memiliki kebijaksanaan sehingga jika fakta yang sebenarnya disampaikan maka akan membuat banyak masyarakat yang ketakutan, panik, dan akhirnya membawa pada kekacauan yang lebih berbahaya. Oleh karenanya jika tidak mampu berfikir yang realistis maka ok lah berfikir positif. Tapi kita dapat membaca situasi dan menganalisa seberapa berbahayanya situasi sekarang dari gerak-gerik pemimpin kita di seluruh dunia.
Penting untuk melihat secara realistis apa yang terjadi. Perlu untuk tetap tenang. Dan dari ketenangan mengambil respon yang mengarah pada kebaikan atau sekurang-kurangnya memperkecil dampak buruk dari suatu fenomena entah itu di level individu mau pun skala yang lebih besar di masyarakat.
Berkaitan dengan Dharma, Spiritual, dan Meditasi, hal-hal dasar yang utama yang akan membantu kita bersikap realistis adalah menerima ketidak kekalan segala sesuatu, menerima kematian sebagai hal yang wajar dan pasti, menerima perpisahan sebagai hal yang pasti terjadi, menerima proses penuaan dan sakit adalah hal yang pasti terjadi. Ini adalah pondasi utama yang harus direnungkan, dipahami dan dilatih.
Dan satu lagi, intuisi hanya akan muncul jika ada ketenangan dan kebijaksanaan bukan di keadaan yang khawatir, takut dan panik. Jika tidak tenang maka yang hadir adalah emosi bukan intuisi, dan bukan respon yang akan diberikan tetapi reaksi yang bersifat emosional. Oleh karenanya sangat penting untuk melatih ketenangan.
Dari status facebook @gedeagustapa 6 April 2020