Keajaiban Karma Baik
Karma baik adalah penyelamat terbaik. Begitu dikatakan oleh para Guru. Apa yang membuat orang selamat dari bencana sementara semua di sekelilingnya tidak selamat? Ada yang percaya tuhan yang menyelamatkannya. Lalu siapa yang membinasakan korban yang tidak selamat? Setankah? Tuhankah? Menggunakan tuhan sebagai penyelamat di tengah bencana adalah hal yang paling tidak masuk akal. Lalu yang tidak selamat seolah tidak disayang tuhan, sehingga gagal diselamatkan, atau tuhan kalah dari kekuatan alam sehingga tidak menyelamatkan mereka yang menjadi korban.
Setidaknya di tradisi Dharma, para Guru, para Buddha, dan mereka yang telah melihat dengan jelas hubungan sebab akibat, hubungan antara benih tindakan dan hasilnya, selalu mengatakan bahwa karma baik adalah penyelamatnya. Buah karma baik dari masa lalu yang entah kapan kita melakukannya. Buah dari perbuatan baik yang menyelamatkan orang-orang dari bencana, dari kesialan, dari wabah. Buah karma baik bertemu dengan kondisi yang tepat. Buah karma buruk membawa pada kesialan, berbagai penyakit, dan kematian yang tak sewajarnya.
Di tradisi Dharma, selalu karma. Entah itu karma individual mau pun karma bersama (kolektif).
Untuk perlindungan, lakukan sebanyak mungkin karma baik. Melalui pikiran, ucapan dan tindakan. Kita telah mengembara di dalam ruang yang luasnya tak berhingga, di waktu yang lamanya tak berhingga, melewati tak berhingga banyaknya kelahiran dan kematian, dalam tak berhingga banyaknya wujud, selain benih karma baik kita juga membawa karma buruk. Bisa saja karma buruk sedang mengintip untuk berbuah. Karenanya imbangi dengan karma baik supaya ketika sial tidak lah bertubi-tubi sialnya dan penderitaannya.
Dan kalau bisa selagi karma baik berbuah dan karma buruk belum matang untuk dipanen, segera bebaskan diri dari segala karma. Sadari betapa palsunya segala sesuatu ini entah itu yang buruk dan yang baik.
Dari status facebook @gedeagustapa 1 Maret 2020