Lagi, Tentang Surga & Neraka
Dalam ajaran Hindu dan Buddha (tradisi Dharma) surga dan neraka ada selama seseorang masih terjebak dalam sensasi. Baik di keadaan terjaga di siang hari, di dalam mimpi, momen kematian dan setelah kematian. Walau pun begitu keberadaannya tidaklah sejati. Sebab sebagaimana sensasi yang muncul-berlangsung-lenyap, begitu juga dengan surga dan neraka. Setiap orang dapat dengan cepat bebas dari surga dan neraka itu jika ia menyadari keadaan yang melampaui segala sensasi itu.
Bahkan di hidup kita jika kita memiliki kepekaan pada sensasi fisik mau pun yang mental kita dengan mudah dapat mengenali surga dan neraka. Ketika pikiran kita diselimuti keirihatian, kemarahan, kebencian, sebenarnya ada ketidaknyamanan yang menyiksa, kita lah yang menyiksa diri kita, bukan tuhan atau makhluk lain. itu lah neraka.
ketika pikiran kita diselimuti oleh perasaan damai, kasih sayang, itu lah surga.
Di Hindu dan Buddha surga neraka sepenuhnya ditentukan oleh keadaan bathin seseorang. Bukan pada apa agamanya, apa pakaiannya, bahkan bukan pada apa yang dilakukannya. Sepenuhnya pada keadaan pikiran di balik tindakan apakah tindakan itu berasal dari bathin yg damai dan penuh kasih sayang atau tidak.
Jadi, surga dan neraka dapat dikatakan ada tetapi juga dapat dikatakan tidak ada. Tergantung level kesadaran seseorang.
Dari status facebook @gedeagustapa 16 pebruari 2020